FOBIZ.ID, MAKASSAR – Pagi itu, di pelataran Masjid 48, Jalan Urip Sumoharjo Makassar, suasana terasa berbeda. Meski Idul Adha selalu membawa semangat kebersamaan, kali ini ada yang lebih besar dari sekadar tradisi tahunan.
Ratusan orang berkumpul, dari relawan hingga tokoh masyarakat, untuk merayakan Festival Kurban 2025 yang digelar oleh Bosowa Peduli. Di antara wajah-wajah yang hadir, ada harapan yang menguat. Harapan bahwa kurban bukan hanya ritual, tapi juga jembatan kepedulian.
Shalat Idul Adha menjadi pembuka hari yang khusyuk. Namun setelah itu, bukan hanya takbir dan doa yang menggema, tapi juga semangat gotong royong. Di tengah acara, tampak Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar, berjalan menyapa warga dan relawan. Di atas panggung sederhana, ia menyampaikan apresiasinya atas gelaran yang terasa istimewa ini.
“Bosowa Peduli tidak hanya melaksanakan pemotongan hewan kurban di Makassar, tetapi juga menyalurkannya hingga ke Gaza, Palestina. Ini bentuk empati luar biasa terhadap saudara-saudara kita yang tertindas,” ujar Munafri, atau yang akrab disapa Appi.
Ia menganggap kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah seperti ini sangat penting. Bagi Appi, sinergi yang dibangun di atas semangat kemanusiaan bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Festival Kurban Bosowa Peduli 2025 ini menjadi salah satu wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat,” tambahnya. “Sekaligus mengangkat nilai gotong royong dan kepedulian terhadap sesama, baik di dalam maupun luar negeri.”
Berdasarkan data yang disampaikan Pemerintah Kota Makassar, sebanyak 6.039 ekor sapi dan 412 ekor kambing dikurbankan tahun ini, tersebar di 15 kecamatan. Kurban dari Bosowa Peduli sendiri turut tercatat di Kecamatan Panakukang.
Tidak hanya soal daging, Appi juga menyoroti pentingnya keberpihakan kepada produk lokal dalam kegiatan sosial. Ia meminta agar pembagian daging kurban dilakukan menggunakan besek dari UMKM lokal.
“Belanja lokal itu penting, terutama di kegiatan sosial. Hindari plastik, pakai produk UMKM kita sendiri. Ini juga selaras dengan edaran dari Kementerian Lingkungan Hidup,” pesannya.
Yang tak kalah menarik, dalam kesempatan itu Munafri mengungkapkan rencana kerja sama lanjutan antara pemerintah kota dan Bosowa, terutama di bidang pendidikan. Ia menyebutkan inisiatif pemberian beasiswa pendidikan vokasi untuk anak-anak lorong yang putus sekolah, melalui Politeknik Bosowa.
“Kami siap mendukung. Kalau kuotanya 100, Bosowa 50, pemerintah kota 50. Ini bentuk nyata kontribusi kita dalam mencerdaskan anak bangsa,” ucapnya disambut tepuk tangan.
Festival ini tidak hanya berfokus pada penyembelihan hewan kurban. Sejak pagi, berbagai kegiatan berlangsung, mulai dari pembukaan resmi oleh Bosowa Peduli, pembagian daging, hingga penyaluran kurban ke daerah-daerah prioritas. Tahun ini, Bosowa Peduli menyalurkan 98 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Satu ekor sapi secara khusus dikirimkan ke Palestina melalui mitra kemanusiaan.
Di tengah hiruk pikuk kegiatan, Subhan Aksa, CEO Bosowa Corporindo, terlihat menyapa warga dengan senyum ramah. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya menjadikan kurban sebagai sarana membangun solidaritas, bukan hanya menjalankan kewajiban agama.
“Kurban adalah simbol pengorbanan dan kasih sayang. Kami ingin menjadikan momen ini sebagai wujud nyata berbagi harapan, baik untuk warga sekitar maupun saudara kita yang berada jauh, bahkan di luar negeri,” kata Subhan.
Bagi Melinda Aksa, Ketua TP PKK dan bagian dari keluarga besar Bosowa, momen ini juga sangat menyentuh secara pribadi. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari napas sosial Bosowa yang sudah tertanam sejak awal.
“Ini bukan hanya tentang membagi daging kurban, tapi juga membagi harapan. Anak-anak yang menerima manfaat dari program ini mungkin tidak akan langsung tahu siapa yang memberi, tapi mereka akan merasakan bahwa mereka tidak sendiri,” ujar Melinda.
Dan di antara semua nama besar itu, ada ratusan relawan tanpa nama, yang mengangkat daging, membungkus besek, menyiapkan logistik, hingga mengantar hewan kurban ke pelosok. Salah satunya, Iqbal (24), mahasiswa yang ikut terlibat sejak subuh.
“Saya ikut dari pagi, karena saya ingin lihat sendiri bahwa kurban itu bukan cuma potong sapi. Di sini saya bisa bantu, bisa belajar, dan merasa jadi bagian dari sesuatu yang besar,” katanya sambil mengelap peluh.
Festival Kurban Bosowa 2025 tak hanya menjadi perayaan. Ia menjadi ruang untuk merasa terhubung. Dari anak lorong di Panakukang, hingga warga Palestina yang menerima kiriman sapi kurban dari Makassar semuanya dipersatukan oleh satu semangat: saling peduli.

Tinggalkan Balasan