Kategori: Feature

  • Sang Juara Dunia yang Terabaikan, Asrul Menabung Rp10 Ribu Demi Bertanding

    Sang Juara Dunia yang Terabaikan, Asrul Menabung Rp10 Ribu Demi Bertanding


    FOBIZ.ID, MAKASSAR — Lampu arena di Kampung Popsa, Makassar, Sabtu (16/5/2026) malam itu tampak begitu terang. Sorak penonton bergemuruh setiap kali pukulan dilepaskan di atas ring National Kun Khmer Fight Day 1.

    Di tengah riuh pertandingan, seorang remaja asal Kabupaten Bone berdiri tenang di sudut arena. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya menyimpan tekad yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

    Namanya Muh Asrul Rafzanjani.

    Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya petarung muda biasa. Namun bagi Indonesia, Asrul adalah sejarah.

    Pelajar kelas 12 SMA Negeri 3 Bone itu merupakan fighter pertama dan satu-satunya dari Indonesia Timur yang berhasil mempersembahkan medali emas untuk Merah Putih pada Kejuaraan Dunia Kun Khmer ke-6 di Sihanoukville, Kamboja, Februari 2026 lalu.

    Di usia muda, ia berhasil mengibarkan nama Indonesia di panggung dunia.

    Namun di balik medali emas yang membanggakan itu, ternyata tersimpan kisah perjuangan yang jauh dari gemerlap kemenangan.

    Datang dengan Tabungan Uang Jajan

    Muh Asrul Rafzanjani petarung merah di National Kun Khmer Fight Makassar
    Muh Asrul Rafzanjani atlet asal Bone peraih medali emas Kejuaraan Dunia Kun Khmer 2026, saat bertanding pada National Kun Khmer Fight Day 1 di Kampung Popsa Makassar.

    Untuk bisa tampil di National Kun Khmer Fight Day 1 di Makassar, Asrul harus datang lebih awal sejak 7 Mei 2026 demi menjalani latihan dan persiapan pertandingan.

    Tetapi perjalanan itu tidak ditopang fasilitas besar atau dukungan dana melimpah.

    Asrul datang dengan biaya seadanya. Dengan bantuan keluarga. Dengan dukungan teman-temannya. Dan dengan uang tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari sisa uang jajannya sendiri.

    “Biaya yang saya gunakan dari sini hasil tabungan yang saya tabung setiap hari Rp10 ribu dari uang jajan,” kata Asrul lirih usai pertandingan.

    Kalimat itu sederhana. Namun terasa menyesakkan.

    Seorang juara dunia. Atlet yang membawa nama Indonesia berdiri di podium internasional. Tetapi untuk bertanding di dalam negerinya sendiri, ia masih harus menyisihkan Rp10 ribu per hari dari uang jajan sekolahnya.

    Bukan puluhan juta. Bukan fasilitas mewah. Hanya tabungan kecil yang dikumpulkan perlahan demi menjaga mimpi tetap hidup.

    Medali Emas yang Belum Mengubah Keadaan

    Di atas ring dunia, Asrul pernah membuat Indonesia bangga. Namun sepulang dari kejuaraan internasional, hidupnya tidak berubah banyak.

    Ia mengaku belum merasakan dukungan pembinaan maksimal, khususnya dari pemerintah daerah.

    “Untuk bantuan seperti dana pembinaan dari Bupati belum ada, cuma KONI Bone sempat memberikan hadiah,” ujarnya.

    Ucapan itu bukan keluhan panjang. Tidak ada nada marah. Tidak ada tuntutan berlebihan.

    Namun justru di situlah letak pilunya.

    Seorang atlet muda yang telah mempersembahkan emas dunia untuk Indonesia masih harus berjuang dengan keterbatasan biaya demi terus bertanding dan berlatih.

    Bertarung Bukan Hanya di Atas Ring

    Malam itu Asrul kembali naik ke atas ring. Mengenakan perlengkapan merah, ia bertarung di bawah sorot lampu dan tatapan ratusan penonton.

    Namun sebenarnya, perjuangan terbesar Asrul mungkin bukan hanya menghadapi lawan di arena pertandingan.

    Ia juga sedang bertarung melawan keadaan.

    Melawan keterbatasan biaya. Melawan minimnya perhatian. Dan melawan kenyataan bahwa tidak semua atlet berprestasi memiliki jalan mudah setelah mengharumkan nama bangsa.

    Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Federasi Kun Khmer Indonesia (PB FKKI), Drs. Salim A. Halid, mengatakan National Kun Khmer Fight Day merupakan bagian dari pembinaan atlet menuju berbagai event internasional.

    PB FKKI bahkan menargetkan atlet-atlet terbaik dipersiapkan menuju Asean Kun Khmer Championship 2026 di Malaysia hingga proyeksi SEA Games 2027 Kuala Lumpur.

    Dan di antara nama-nama atlet yang terus berjuang itu, ada Asrul — remaja asal Bone yang pernah membuat Indonesia berdiri bangga di podium dunia.

    Seorang juara dunia yang hari ini masih menabung Rp10 ribu dari uang jajannya demi menjaga mimpi tetap menyala. (*)

  • Mikael Risdiyanto Setyabudi dan Keberanian Mengungkap Korupsi Desa

    Mikael Risdiyanto Setyabudi dan Keberanian Mengungkap Korupsi Desa

    FOBIZ.ID – KEDIRI – Di tengah derasnya arus informasi digital dan persaingan media berbasis kecepatan, konsistensi pada nilai dasar jurnalistik menjadi pembeda utama seorang wartawan.

    Mikael Risdiyanto Setyabudi, jurnalis Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) kanal flores.pikiran-rakyat.com, adalah salah satu contoh jurnalis yang memilih menempatkan integritas, ketelitian, dan kepentingan publik sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya.

    Mikael dikenal sebagai jurnalis yang fokus pada isu hukum dan tata kelola pemerintahan, khususnya persoalan korupsi di tingkat lokal.

    Ketertarikannya pada dunia jurnalistik tumbuh dari keyakinan bahwa pers memiliki peran strategis sebagai pengawas kekuasaan.

    Bagi Mikael, jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan bentuk tanggung jawab sosial untuk memastikan publik mendapatkan informasi yang benar, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Nama Mikael mulai mendapat perhatian luas melalui liputan berkelanjutan terkait dugaan praktik suap dalam pengisian perangkat desa di Kabupaten Kediri sejak 2023.

    Isu ini ia angkat secara konsisten melalui PRMN, dengan pendekatan yang mengedepankan data, dokumen, dan proses hukum yang berjalan.

    Di saat banyak media cenderung menghindari isu sensitif di tingkat desa, Mikael justru memilih masuk lebih dalam, menelusuri fakta dari ruang sidang hingga keterangan para pihak yang terlibat.

    Dalam setiap laporannya, Mikael menampilkan gaya jurnalistik yang lugas dan terstruktur.

    Ia tidak mengandalkan sensasi, tetapi membangun narasi berdasarkan kronologi peristiwa, kesaksian di persidangan, serta pernyataan resmi aparat penegak hukum.

    Pendekatan ini membuat liputannya tidak hanya informatif, tetapi juga relevan sebagai rujukan publik untuk memahami persoalan hukum secara utuh.

    Keberanian Mikael dalam mengangkat kasus dugaan korupsi tersebut tidak terlepas dari risiko yang melekat pada jurnalisme daerah.

    Relasi kekuasaan yang dekat, tekanan sosial, hingga potensi intimidasi menjadi tantangan tersendiri.

    Namun, Mikael tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, menerapkan asas praduga tak bersalah, dan menjaga keseimbangan informasi.

    Baginya, keberpihakan jurnalis bukan pada individu atau kelompok tertentu, melainkan pada fakta dan kepentingan publik.

    Karya-karya Mikael di PRMN juga mencerminkan karakter jurnalisme hukum yang kuat.

    Ia teliti mengurai proses hukum yang kerap dianggap rumit oleh masyarakat, lalu menyajikannya dalam bahasa yang mudah dipahami tanpa menghilangkan substansi.

    Dengan cara ini, Mikael berkontribusi memperluas literasi hukum publik, khususnya terkait praktik korupsi di tingkat pemerintahan desa.

    Dampak dari liputan berkelanjutan tersebut terasa nyata. Isu pengisian perangkat desa yang sebelumnya minim perhatian publik, menjadi bahan diskusi luas di masyarakat.

    Transparansi, akuntabilitas, dan integritas pemerintahan desa kembali menjadi sorotan.

    Dalam konteks ini, jurnalisme yang dijalankan Mikael berfungsi sebagai pengingat bahwa praktik korupsi, sekecil apa pun skalanya, memiliki konsekuensi serius bagi kepercayaan publik dan tata kelola pemerintahan.

    Sebagai jurnalis PRMN, Mikael juga menunjukkan komitmen tinggi terhadap profesionalisme. Ia telah menempuh Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan tanggung jawab profesi.

    Sertifikasi tersebut tercermin dalam kerapian struktur berita, ketepatan pemilihan diksi, serta konsistensi dalam verifikasi sumber.

    UKW bagi Mikael bukan sekadar pengakuan formal, melainkan sarana untuk menjaga kualitas dan kredibilitas karya jurnalistik.

    Di balik kerja jurnalistiknya, Mikael dikenal memiliki komitmen kuat terhadap nilai kebangsaan. Ketertarikannya pada isu korupsi berangkat dari pandangan bahwa praktik tersebut merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Ia meyakini bahwa pers memiliki peran penting dalam mencegah normalisasi korupsi, terutama di level pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

    Dalam lanskap media yang kerap dihadapkan pada kompromi antara idealisme dan kepentingan pragmatis, sepak terjang Mikael Risdiyanto Setyabudi menjadi representasi jurnalis PRMN yang tetap setia pada nilai dasar profesi.

    Melalui liputan yang konsisten, berimbang, dan berbasis fakta, ia membuktikan bahwa jurnalisme yang berintegritas masih memiliki ruang dan dampak nyata bagi demokrasi.

    Bagi Mikael, jurnalisme bukan soal popularitas, melainkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Dan dari kerja-kerja sunyi itulah, kepercayaan publik terhadap pers terus dirawat. (***)

  • Harga Diri Wija To Luwu dan Asa Menjadi Provinsi Luwu Raya

    Harga Diri Wija To Luwu dan Asa Menjadi Provinsi Luwu Raya




    FOBIZ.ID – Seruan itu kembali menggema dari Tanah Luwu. Bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan suara tentang harga diri, sejarah panjang, dan harapan masa depan. Di Palopo, masyarakat Wija To Luwu kembali menyuarakan satu cita-cita lama: pembentukan Provinsi Luwu Raya.

    Di hadapan massa aksi, Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau, tampil bukan hanya sebagai simbol adat, tetapi juga penjaga memori kolektif masyarakat Luwu. Dengan busana adat dan suara yang tenang namun tegas, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu memperjuangkan pemekaran wilayah yang telah lama diperjuangkan.

    “Ini bukan sekadar soal wilayah administratif. Ini tentang harga diri dan masa depan Wija To Luwu,” ujar Datu Luwu di hadapan massa aksi, Minggu (18/1/2026).

    Seruan tersebut menegaskan bahwa isu Provinsi Luwu Raya tidak berdiri di ruang hampa. Ia lahir dari sejarah panjang Tanah Luwu sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, jauh sebelum pembentukan provinsi modern seperti saat ini.

    Dalam catatan sejarah, wilayah Luwu pernah menjadi pusat kekuasaan dan ekonomi. Aspirasi ini bahkan tercatat sejak awal republik, sebagaimana diulas dalam artikel Istana Luwu Tagih Janji Presiden Soekarno untuk Dijadikan Provinsi, yang menegaskan panjangnya jejak perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

    Namun dalam perjalanan waktu, kawasan ini terfragmentasi ke dalam beberapa kabupaten dan kota di bawah Provinsi Sulawesi Selatan. Fragmentasi administratif tersebut, bagi sebagian masyarakat, dinilai menggerus identitas serta daya tawar pembangunan kawasan Luwu Raya.

    Gagasan pembentukan Provinsi Luwu Raya bukanlah isu baru. Wacana ini telah mengemuka sejak awal era reformasi, seiring menguatnya tuntutan desentralisasi dan otonomi daerah. Meski begitu, hingga kini cita-cita tersebut masih berada pada fase perjuangan panjang.

    Di tingkat nasional, pemekaran daerah menghadapi tantangan kebijakan. Pemerintah pusat masih menerapkan moratorium pembentukan daerah otonom baru dengan pertimbangan efisiensi fiskal dan tata kelola pemerintahan. Realitas ini membuat perjuangan Provinsi Luwu Raya berada di antara aspirasi daerah dan kebijakan negara.

    Meski demikian, dinamika lokal menunjukkan bahwa isu ini terus hidup. Dukungan datang dari tokoh adat, mahasiswa, organisasi masyarakat, hingga sejumlah tokoh politik daerah. Aksi-aksi yang berlangsung di Palopo dan wilayah Luwu Raya lainnya menjadi penanda bahwa aspirasi tersebut belum padam.

    Namun tidak semua pihak melihat jalan ini dengan optimisme penuh. Sebuah analisis di FOBIZ.ID menyoroti risiko pemekaran Luwu Raya menjadi harapan kosong tanpa persatuan dan kesiapan logistik, menegaskan bahwa perjuangan ini membutuhkan konsolidasi yang matang.

    Para pendukung pemekaran tetap meyakini Provinsi Luwu Raya akan membuka ruang percepatan pembangunan. Dengan wilayah yang luas serta potensi sumber daya alam yang besar, daerah ini dinilai layak berdiri sebagai provinsi mandiri agar pengelolaan pembangunan dapat lebih terfokus dan berkeadilan.

    Datu Luwu dalam pernyataannya menekankan pentingnya persatuan. Ia mengajak seluruh masyarakat Luwu, di manapun berada, untuk tidak terpecah oleh perbedaan pandangan. Baginya, perjuangan Provinsi Luwu Raya harus ditempuh secara konstitusional, bermartabat, dan mengedepankan dialog.

    “Perjuangan ini harus dilakukan dengan cara yang bermartabat, sesuai aturan, dan dengan persatuan,” tegasnya.

    Pada titik inilah, isu Provinsi Luwu Raya menemukan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar soal peta dan batas wilayah, tetapi tentang identitas, keadilan pembangunan, dan harapan generasi mendatang.

    Untuk mengikuti perkembangan isu ini secara berkelanjutan, pembaca dapat menelusuri arsip terkait melalui tag Pemekaran Luwu Raya serta dinamika komunitas adat melalui tag Kerukunan Keluarga Luwu Raya.

    Catatan: Artikel ini diperbarui untuk memperkuat konteks sejarah, dinamika sosial-politik, serta pernyataan terbaru tokoh adat terkait perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

  • Mereka yang Ada di Dalam ATR 42-500: Kisah di Balik Manifest Penerbangan Terakhir

    Mereka yang Ada di Dalam ATR 42-500: Kisah di Balik Manifest Penerbangan Terakhir






    FOBIZ.ID, MAKASSAR — Kabut turun perlahan di lereng Gunung Bulusaraung, menutup punggung gunung, menyamarkan hutan, dan menghapus jarak pandang. Di saat itulah, sebuah pesawat ATR 42-500 berhenti menjawab panggilan. Tidak ada ledakan yang terdengar, tidak ada pesan darurat yang terekam. Hanya keheningan yang tiba-tiba terasa lebih panjang dari biasanya.

    Di balik keheningan itu, terdapat sebelas nama yang tercantum dalam manifest awal penerbangan. Sebelas manusia dengan peran berbeda, dengan tujuan yang tampak biasa, dengan keyakinan bahwa penerbangan ini hanyalah satu dari sekian banyak perjalanan yang akan mereka lalui.

    Tidak ada dari mereka yang tahu bahwa nama-nama itu akan menjadi bagian dari pencarian, doa, dan penantian panjang.

    Pesawat turboprop tersebut tengah menjalankan misi resmi. Hingga kini, tim SAR masih mengacu pada manifest awal berjumlah 11 orang, meski perbedaan data sempat muncul di ruang publik. Di posko pencarian, angka-angka itu bukan sekadar data, melainkan wajah-wajah yang ditunggu kepulangannya.

    Di Kokpit, Dua Nama Mengendalikan Arah

    Di kursi kapten duduk Andy Dahananto. Di sisinya, Yudha Mahardika mendampingi sebagai kopilot. Di ruang sempit kokpit, keduanya memantau langit, instrumen, dan jalur pegunungan yang dikenal sulit ditaklukkan, terlebih ketika kabut turun tanpa peringatan.

    Mereka adalah orang terakhir yang memegang kendali atas arah pesawat, membuat keputusan dalam hitungan detik, dengan pengalaman dan pelatihan sebagai sandaran utama.

    Mereka yang Bekerja Tanpa Sorotan

    Manifest juga mencatat nama Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, dan Junaidi. Mereka bukan figur yang dikenal publik, tetapi kehadiran mereka menentukan apakah sebuah penerbangan berjalan sebagaimana mestinya.

    Di balik prosedur, cek teknis, dan koordinasi operasional, merekalah orang-orang yang bekerja dalam sunyi, memastikan pesawat layak terbang dan setiap sistem berjalan sesuai standar.

    Di kabin, Florencia Lolita dan Esther Aprilita S. menjalankan peran yang kerap dianggap sepele: menyapa penumpang, memastikan sabuk pengaman terpasang, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang tak pernah diharapkan.

    Tiga Penumpang, Satu Tugas Negara

    Selain kru, terdapat tiga penumpang dalam pesawat itu. Deden Mulyana, Ferry Irawan, dan Yoga Naufal, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, tengah menjalankan tugas kedinasan.

    Bagi mereka, penerbangan ini adalah bagian dari rutinitas kerja—menuju lokasi tugas, kembali ke keluarga, melanjutkan hari-hari biasa. Tidak ada yang luar biasa dari jadwal itu, hingga kabut Bulusaraung mengubah segalanya.

    Antara Angka dan Penantian

    Perbedaan jumlah orang di dalam pesawat sempat memicu kebingungan. Ada yang menyebut sepuluh, ada yang mengacu pada sebelas. Namun bagi keluarga yang menunggu kabar, perbedaan itu tidak mengubah apa pun.

    Satu nama saja sudah cukup untuk membuat waktu berhenti berjalan.

    Gunung, Kabut, dan Pencarian yang Sunyi

    Hingga Minggu (19/1/2026), tim SAR gabungan masih menyisir lereng Bulusaraung. Mereka berjalan kaki menembus hutan, menatap jurang, dan bergulat dengan kabut yang datang dan pergi tanpa aba-aba.

    Setiap laporan temuan diverifikasi, setiap potongan informasi diperiksa ulang. Di medan seperti ini, kesalahan kecil bisa berakibat fatal—bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi para pencari.

    Di gunung itu, yang dicari bukan sekadar puing pesawat. Yang dicari adalah kepastian. Tentang apa yang terjadi. Tentang bagaimana sebuah perjalanan berakhir. Tentang sebelas nama yang kini hidup dalam doa, harapan, dan kesunyian yang belum terjawab.

    Dan selama kabut masih turun di Bulusaraung, kisah mereka belum benar-benar selesai.






  • 5 Aktivitas di Rumah Saat Hujan Lebat di Libur Tahun Baru

    5 Aktivitas di Rumah Saat Hujan Lebat di Libur Tahun Baru


    MAKASSAR, FOBIZ.ID – Hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan saat libur Tahun Baru 2026 membuat banyak warga memilih untuk tetap berada di rumah. Kondisi ini juga sebelumnya ramai diperbincangkan dalam laporan warga Makassar yang merayakan Tahun Baru di rumah karena hujan.

    Meski aktivitas di luar ruangan menjadi terbatas, momen libur awal tahun tetap bisa dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan sederhana di rumah. Terlebih, potensi hujan masih berpeluang terjadi sebagaimana tercantum dalam prakiraan cuaca Sulawesi Selatan.

    Berikut lima aktivitas di rumah yang bisa dilakukan saat hujan lebat di libur Tahun Baru.

    1. Menikmati Waktu Bersama Keluarga
    Libur Tahun Baru menjadi momen tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Mengobrol santai, bermain permainan sederhana, atau menikmati minuman hangat bersama dapat mempererat kebersamaan.

    2. Menonton Film atau Serial Favorit
    Suasana hujan sering kali membuat kegiatan menonton terasa lebih nyaman. Film keluarga, dokumenter, atau serial favorit bisa menjadi pilihan mengisi waktu luang di rumah.

    3. Memasak atau Mencoba Resep Baru
    Memasak menjadi aktivitas yang cukup digemari saat hujan. Selain mengisi waktu, mencoba menu baru juga dapat menciptakan suasana libur yang lebih menyenangkan.

    4. Merapikan Rumah dan Refleksi Awal Tahun
    Awal tahun menjadi waktu yang tepat untuk merapikan rumah, menyortir barang, atau menata ulang ruangan. Aktivitas ini sekaligus bisa menjadi refleksi menyambut tahun yang baru.

    5. Membaca dan Mengakses Informasi Digital
    Banyak warga memanfaatkan waktu hujan dengan membaca berita dan artikel melalui ponsel. Informasi seputar cuaca, kondisi wilayah, hingga ekonomi daerah dapat diakses melalui kanal News fobiz.id.

    Dengan memilih aktivitas yang tepat, hujan lebat saat libur Tahun Baru tidak harus menjadi penghalang. Justru, momen ini dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, berkumpul, dan memulai tahun dengan suasana yang lebih tenang.