PENULIS :MAHDIS
Di tengah stigma dan diskriminasi yang masih mengintai, terutama bagi Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), Wati muncul sebagai sosok inspiratif.
Wanita tangguh ini tidak hanya berani memulai usaha, tetapi juga berhasil menciptakan ruang bagi dirinya dan sesama OYPMK untuk berdaya.
Bagi banyak OYPMK, memulai usaha adalah langkah yang penuh ketakutan. Mereka sering kali berpikir dua kali sebelum menawarkan produk mereka kepada masyarakat.
“Apakah usaha saya akan diterima?” adalah pertanyaan yang menghantui pikiran mereka.
Namun, Wati memilih untuk melawan keraguan itu. Meski tinggal di luar kampung kusta, ia menjalankan usaha jualan di rumahnya dengan percaya diri.
Wati menjual berbagai barang campuran, termasuk sembako dan makanan siap saji seperti bakso dan jagung rebus.
Selama lima tahun terakhir, ia telah mengembangkan usahanya dari sekadar menjual gorengan menjadi toko kelontong yang lengkap dengan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tidak hanya berjualan dari rumah, Wati juga aktif menjajakan dagangannya ke pemukiman OYPMK di kompleks RS Tajuddin Chalid Makassar.
Dengan menggunakan bentor miliknya, ia mengantarkan pesanan kepada para pelanggan, terutama pekerja cleaning service yang sering kali mengalami keterlambatan gaji.
“Saya menjual dagangan di sini dengan metode utang untuk membantu mereka,” ungkap Wati saat mengantarkan pesanan.
Ia memahami betul kebutuhan pelanggannya dan selalu siap membantu, bahkan ketika pembayaran terlambat.
“Terkadang pesanan banyak karena gajian mereka juga terlambat, tapi saya tetap membawakan pesanan karena sangat diperlukan,” tambahnya.
Wati tidak hanya dikenal oleh sesama OYPMK, tetapi juga oleh masyarakat sekitar.
Nikma, salah satu pelanggannya, mengatakan bahwa Wati seperti pahlawan bagi mereka yang membutuhkan.
“Ketika kita butuh sesuatu dan uang tidak ada, Wati selalu ada untuk membantu,” ujarnya.
Ros, seorang pelanggan non-OYPMK, awalnya merasa ragu untuk membeli barang dari Wati. Namun, setelah mendapatkan informasi bahwa kusta tidak menular melalui makanan, ia akhirnya berani menjadi pelanggan tetap.
“Sekarang saya tidak ragu lagi,” katanya.
Wati menjalankan usahanya bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Ia berkomitmen untuk membantu sesama OYPMK dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
“Saya akan terus membantu mereka dengan menyediakan aneka kebutuhan hidup sehari-hari sambil menjalankan usaha di rumah,” tuturnya.
Dengan keberadaan Wati dan usahanya, para OYPMK yang memiliki disabilitas fisik kini tidak perlu lagi pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Mereka bisa mendapatkan semua yang diperlukan langsung dari rumah.
Meski telah mencapai banyak hal, Wati tetap berharap ada dukungan modal agar usahanya dapat berkembang lebih jauh.
“Saya bangga dengan usaha yang saya jalani dan berharap bisa lebih berkembang lagi,” ungkapnya.
Wati menjadi contoh nyata bagi OYPMK lainnya untuk berani memulai usaha dan melawan stigma serta diskriminasi.
“Kalau mereka bisa, kita juga harus bisa,” tegasnya dengan semangat.
Dengan tekad dan keberanian, Wati menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk sukses.
Ia adalah inspirasi bagi banyak orang untuk terus berjuang dan saling mendukung dalam menghadapi tantangan hidup. (*)






