Tag: MAKASSAR

  • UIM Al-Gazali Kukuhkan 600 Wisudawan, Rektor Tekankan Transformasi Ilmu

    UIM Al-Gazali Kukuhkan 600 Wisudawan, Rektor Tekankan Transformasi Ilmu

    FOBIZ.ID, MAKASSAR — Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali mengukuhkan sekitar 600 wisudawan pada Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Hotel Dalton Makassar, Kamis (20/8/2026).

    Dalam momentum tersebut, Rektor UIM Al-Gazali, Prof Muammar Bakry, berpesan kepada para alumni agar tidak berhenti menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal pribadi. Ia mendorong para lulusan untuk mentransformasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah menjadi sesuatu yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Wisuda kali ini berlangsung dalam suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan bertepatan dengan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    UIM Al-Gazali mengangkat tema “Wisudawan Merdeka dan Rahmatan Lil ‘Alamin.”

    Prof Muammar menjelaskan, tema tersebut mengandung pesan agar para alumni mampu membawa nilai-nilai kemerdekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Menurutnya, kemerdekaan tidak semata-mata dimaknai sebagai kebebasan. Lebih dari itu, kemerdekaan harus diwujudkan melalui kemampuan setiap lulusan dalam mengamalkan ilmu yang diperoleh sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

    “Pada momentum kemerdekaan ini, kami berharap para alumni UIM bisa membawa nilai-nilai kemerdekaan bagi bangsa dan negara, termasuk bagaimana mentransformasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan yang nyata dan riil sehingga bisa berdampak di tengah masyarakat,” ujar Prof Muammar.

    Ia menegaskan, wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh harus menjadi bekal bagi para alumni untuk menghadapi berbagai persoalan sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.

    UIM Beri Perhatian kepada Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

    Dalam kesempatan yang sama, Prof Muammar turut menyinggung perhatian UIM Al-Gazali terhadap mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa.

    Sebelumnya, UIM turut memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian dan empati kepada mahasiswa yang menjadi bagian dari keluarga besar kampus.

    “Ini bagian dari kebersamaan dan bagian dari empati kita pada anak-anak kita sebagai satu keluarga besar UIM. Kita UIM ini seperti rahim bagi seluruh sivitas akademika,” katanya.

    Prof Muammar menyebut terdapat puluhan mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di UIM Al-Gazali.

    Ia memastikan kepedulian terhadap mahasiswa akan terus menjadi bagian dari semangat kebersamaan dan solidaritas di lingkungan kampus.

    Pesan untuk Alumni dan Penghormatan kepada Orang Tua

    Prof Muammar juga berharap para wisudawan mampu menggunakan kompetensi yang dimiliki untuk memberikan manfaat kepada masyarakat sekaligus memenuhi harapan orang tua dan wali.

    Ia memberikan perhatian khusus kepada para wisudawan yang harus menyelesaikan pendidikan tanpa didampingi orang tua karena telah kehilangan orang tua selama menjalani masa perkuliahan.

    Menurutnya, perjuangan tersebut memiliki makna yang mendalam. Ilmu dan kebaikan yang diamalkan seorang anak setelah orang tuanya meninggal dunia dapat menjadi bagian dari amal jariyah bagi orang tua yang telah lebih dahulu berpulang.

    “Bukan berarti mereka yang telah mendahului, para orang tua yang telah mendahului, tidak menikmati anak-anaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki. Justru dengan kepergiannya, mereka akan menikmati hasil dari amal jariyah yang dilakukan oleh anak-anaknya dari ilmu pengetahuan dan kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan,” tuturnya.

    Prof Muammar mengungkapkan, sedikitnya terdapat dua alumni dalam momentum wisuda tersebut yang kehilangan orang tua ketika masih menjalani pendidikan di UIM.

    Ia berharap kisah perjuangan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian gelar akademik.

    Lebih dari itu, pendidikan diharapkan mampu melahirkan insan berilmu yang dapat menghadirkan manfaat dan kebaikan secara berkelanjutan.

    Dengan semangat Merdeka dan Rahmatan Lil ‘Alamin, UIM Al-Gazali berharap para lulusan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan masyarakat.

    (AAR)

  • Kejurnas Kun Khmer IV Makassar Jadi Seleksi ke Vietnam

    Kejurnas Kun Khmer IV Makassar Jadi Seleksi ke Vietnam

    MAKASSAR, FOBIZ.ID — Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kun Khmer IV dan Fight Day II resmi berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat-Sabtu, 14–15 Agustus 2026. Kejuaraan ini menjadi salah satu agenda penting Pengurus Besar Federasi Kun Khmer Indonesia (PB FKKI) dalam menjaring atlet-atlet unggulan untuk dipersiapkan menuju ajang internasional.

    Kejuaraan yang berlangsung di Tetes Kopi Makassar tersebut diikuti lebih dari 70 atlet yang berasal dari sekitar 18 provinsi di Indonesia. Para peserta tampil dalam kategori junior dan senior dengan membawa nama daerah, klub atau camp, serta terdapat pula peserta yang mengikuti pertandingan secara perorangan.

    Sekretaris Jenderal PB FKKI, Drs. Salim A. Halik, M.Si., mengatakan Kejurnas Kun Khmer IV tidak hanya menjadi ajang kompetisi nasional, tetapi juga bagian dari proses seleksi atlet yang akan dipersiapkan mengikuti kejuaraan tingkat Asia di Vietnam.

    “Kita harapkan memang kejuaraan ini merupakan kejuaraan untuk menyeleksi para atlet-atlet unggulan nanti yang akan kita pilih untuk kita berangkatkan mengikuti Kejuaraan Asia Kun Khmer Championship di Vietnam pada awal September yang akan datang,” ujar Salim.

    Diikuti Atlet dari 18 Provinsi

    Menurut Salim, peserta yang hadir dalam Kejurnas Kun Khmer IV berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah yang telah disebutkan antara lain Aceh, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, DKI Jakarta, Papua Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan sejumlah daerah lainnya.

    Komposisi peserta cukup beragam. Atlet dapat bertanding dengan membawa nama provinsi, kabupaten/kota, klub atau camp. Bahkan, PB FKKI juga membuka kesempatan bagi atlet perorangan untuk mengikuti kompetisi.

    “Dia mewakili kabupaten, jadi kita ini akan mewakili provinsi, kabupaten juga bisa, kota dan camp bisa mengikuti, bahkan perorangan juga bisa. Ada yang ikut mewakili camp dan ada juga mewakili kabupaten, kota atau provinsi,” jelas Salim.

    Dengan jumlah peserta yang telah mencapai lebih dari 70 atlet, penyelenggara masih melanjutkan pertandingan pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

    Seleksi Menuju Kejuaraan Asia di Vietnam

    Salah satu fokus utama Kejurnas Kun Khmer IV adalah mencari atlet terbaik yang dinilai memiliki kemampuan dan kesiapan untuk membawa nama Indonesia pada kompetisi internasional.

    Para atlet yang tampil akan menjadi bagian dari proses penilaian tim teknis PB FKKI. Atlet yang memenuhi kriteria diharapkan dapat masuk dalam skuad yang dipersiapkan menuju Asian Championship Kun Khmer di Vietnam pada 1–8 September 2026.

    Sebelumnya, Ketua Umum PB FKKI, Dr. Sudirman, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa atlet yang terpilih nantinya akan menjalani persiapan lebih lanjut sebelum diberangkatkan ke Vietnam.

    “Begitu kalian terpilih, kalian tidak pulang lagi. Langsung berangkat ke Jakarta untuk pelatihan. Dan saya akan kirim, insyaallah, ke Vietnam tanggal 1 sampai tanggal 8 September,” kata Sudirman.

    Ia meminta para atlet memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menunjukkan kemampuan terbaik selama pertandingan. Sportivitas dan nilai-nilai olahraga juga menjadi bagian penting yang ditekankan kepada seluruh peserta.

    Empat Tahun Kun Khmer Berkembang di Indonesia

    PB FKKI menyebut perkembangan Kun Khmer di Indonesia telah memasuki tahun keempat. Dalam periode tersebut, federasi secara konsisten menggelar pertandingan sebagai bagian dari upaya membangun pembinaan atlet dan memperluas perkembangan olahraga tersebut di Indonesia.

    Kejuaraan pertama dan kedua sebelumnya digelar di Bandung. Sementara Kejurnas ketiga dan keempat berlangsung di Makassar.

    Menurut Ketua Umum PB FKKI, konsistensi penyelenggaraan kejuaraan menjadi bagian penting dalam membangun fondasi organisasi sekaligus membuka ruang bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.

    Ia juga menyampaikan bahwa PB FKKI terus melakukan proses kelembagaan dan pembenahan organisasi agar Kun Khmer Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam ekosistem olahraga nasional.

    PB FKKI saat ini juga tengah menjalani proses menuju keanggotaan KONI. Salah satu bagian dari proses tersebut adalah pemenuhan persyaratan organisasi dan rekam jejak kegiatan olahraga.

    Prestasi di Kejuaraan Dunia

    Perjalanan Kun Khmer Indonesia di level internasional juga menjadi bagian dari perkembangan olahraga tersebut. Dalam sambutannya, Sudirman menyebut atlet Indonesia telah mengikuti Kejuaraan Dunia Kun Khmer di Kamboja.

    Pada Kejuaraan Dunia Kun Khmer keempat, Indonesia membawa pulang satu medali emas, satu perak dan dua perunggu.

    Sementara pada Kejuaraan Dunia Kun Khmer kelima pada 2025, Indonesia kembali mencatatkan prestasi dengan membawa pulang dua medali emas, dua perak dan tiga perunggu.

    Prestasi tersebut menjadi salah satu modal bagi PB FKKI untuk terus meningkatkan pembinaan atlet dan memperluas partisipasi Indonesia dalam kompetisi internasional.

    Target Indonesia Open Kun Khmer

    Selain mengikuti kompetisi internasional, PB FKKI juga menyiapkan agenda kejuaraan internasional di Indonesia. Salah satu rencana yang disampaikan Ketua Umum adalah penyelenggaraan Indonesia Open Kun Khmer pada akhir 2026.

    Makassar disebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menjadi lokasi penyelenggaraan event tersebut. Selain Makassar, terdapat pula daerah lain yang menjadi kandidat tuan rumah.

    PB FKKI juga menyebut adanya rencana penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Kun Khmer ketujuh di Indonesia. Salah satu daerah yang telah menyampaikan ketertarikan menjadi tuan rumah adalah Padang, Sumatera Barat.

    Technical Meeting Digelar Sebelum Pertandingan

    Persiapan Kejurnas Kun Khmer IV dan Fight Day II telah dilakukan sejak Kamis malam, 13 Agustus 2026. Technical meeting dihadiri perwakilan camp dan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh peserta memahami ketentuan pertandingan.

    Selain technical meeting, panitia juga melakukan persiapan arena pertandingan. Sejumlah pekerja dan panitia terlihat memasang serta menyiapkan ring pertandingan pada malam sebelum kejuaraan dimulai.

    Suasana persiapan tersebut menunjukkan kesibukan panitia dalam memastikan arena siap digunakan. Para perwakilan peserta juga mengikuti pembahasan teknis sebelum atlet memasuki arena pertandingan.

    Pemeriksaan Kesehatan dan Penimbangan Atlet

    Sebelum bertanding, atlet menjalani pemeriksaan kesehatan dan penimbangan berat badan. Proses tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WITA.

    Pemeriksaan menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan atlet sekaligus kesesuaian kelas pertandingan yang diikuti.

    Setelah rangkaian pemeriksaan dan persiapan teknis, seluruh atlet dijadwalkan mengikuti upacara pembukaan yang berlangsung pada pukul 16.00 WITA.

    Atlet Junior dan Senior Jadi Bagian Pembinaan

    Kejurnas Kun Khmer IV juga memberikan ruang bagi atlet dari kategori junior dan senior. Kehadiran dua kelompok usia tersebut menjadi bagian dari strategi pembinaan berjenjang yang dilakukan PB FKKI.

    Ketua Umum PB FKKI meminta atlet tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menunjukkan karakter, disiplin dan sportivitas selama pertandingan.

    Ia menilai kompetisi nasional seperti ini menjadi tempat penting untuk menemukan atlet yang memiliki kemampuan dan mental bertanding sebelum diberikan kesempatan tampil pada level internasional.

    “Berkompetisilah dengan baik di sini, junjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai olahraga,” pesan Sudirman kepada para atlet. (*)

  • 18 Provinsi Ikuti Kejurnas Kun Khmer IV di Makassar

    18 Provinsi Ikuti Kejurnas Kun Khmer IV di Makassar

    FOBIZ.ID – MAKASSAR — Persiapan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kun Khmer IV dan Fight Day II Kun Khmer Indonesia 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, memasuki tahap akhir. Technical meeting digelar Kamis (13/8/2026) malam dengan dihadiri perwakilan camp, sementara panitia juga melakukan persiapan dan pemasangan ring pertandingan.Ajang nasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13–15 Agustus 2026 di Makassar dan diikuti peserta dari 18 provinsi di Indonesia.

    Panitia menargetkan jumlah peserta dapat mencapai sekitar 100 atlet. Hingga tahap persiapan sebelumnya, sekitar 50 peserta telah terdata dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.

    Technical Meeting Dihadiri Perwakilan Camp

    Technical meeting berlangsung pada Kamis malam dan dihadiri perwakilan camp yang akan mengikuti Kejurnas Kun Khmer IV.

    Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan pertandingan. Panitia menyampaikan berbagai ketentuan dan teknis pertandingan kepada perwakilan camp sebelum atlet memasuki tahapan kompetisi.

    Sejumlah kelas pertandingan juga telah dipersiapkan, termasuk kelas C dan kelas D.

    Suasana technical meeting berlangsung dalam suasana koordinasi antara panitia, perwakilan camp dan peserta. Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh pertandingan dapat berjalan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

    Ring Pertandingan Mulai Dipasang

    Persiapan ring pertandingan Kejurnas Kun Khmer IV Makassar
    Panitia dan kru menyiapkan arena serta memasang perlengkapan ring pertandingan menjelang Kejurnas Kun Khmer IV dan Fight Day II di Makassar, Kamis (13/8/2026) malam.

    Selain technical meeting, panitia dan kru juga melakukan persiapan arena pertandingan. Ring dan sejumlah perlengkapan pendukung mulai dipasang pada Kamis malam.

    Persiapan arena dilakukan hingga malam hari. Sejumlah panitia terlihat bekerja menata area pertandingan agar siap digunakan ketika rangkaian pertandingan dimulai.

    Pemasangan ring menjadi salah satu tahapan akhir persiapan sebelum atlet menjalani pemeriksaan kesehatan dan timbang berat badan.

    18 Provinsi Ikut Kejurnas Kun Khmer

    Kejurnas Kun Khmer IV tahun 2026 di Makassar diikuti peserta dari 18 provinsi.

    Sejumlah daerah yang tercatat dalam persiapan peserta antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Aceh, DKI Jakarta dan sejumlah daerah lainnya.

    Kehadiran peserta dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan semakin luasnya perkembangan olahraga Kun Khmer di Indonesia.

    Panitia juga masih membuka peluang bertambahnya jumlah peserta hingga mendekati target yang telah ditetapkan.

    Pemeriksaan Kesehatan dan Timbang Badan

    Setelah technical meeting, atlet akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan penimbangan berat badan.

    Pemeriksaan kesehatan dan timbang badan dijadwalkan berlangsung pada Jumat (14/8/2026) mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WITA.

    Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan atlet sekaligus menyesuaikan berat badan dengan kelas pertandingan yang diikuti.

    Setelah seluruh tahapan pemeriksaan dan penimbangan selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan upacara pembukaan.

    Pembukaan Digelar Pukul 14.00 WITA

    Upacara pembukaan Kejurnas Kun Khmer IV dan Fight Day II dijadwalkan berlangsung pada Jumat (14/8/2026) pukul 14.00 WITA.

    Seluruh atlet yang mengikuti kejuaraan diwajibkan hadir dalam upacara pembukaan tersebut.

    Setelah pembukaan, pertandingan akan memasuki agenda kompetisi sesuai jadwal dan kelas yang telah dipersiapkan panitia.

    Target 100 Peserta

    Panitia pelaksana, Muhammad Ichida Sudirman, mengatakan jumlah peserta masih berpotensi bertambah menjelang pelaksanaan pertandingan.

    Panitia menargetkan sekitar 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

    Peserta dari luar Sulawesi Selatan juga mulai berdatangan. Sejumlah peserta berasal dari wilayah Indonesia timur dan daerah lainnya yang telah mempersiapkan atlet untuk mengikuti kejuaraan.

    Ichida mengatakan panitia juga tengah mempersiapkan mekanisme untuk mendapatkan atlet-atlet terbaik Indonesia yang nantinya dapat dikembangkan menuju agenda Kun Khmer pada level Asia dan internasional.

    Penguatan Organisasi Kun Khmer Indonesia

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB FKKI, Drs. Salim A. Halik, M.Si., mengatakan perkembangan organisasi Kun Khmer Indonesia terus dilakukan di berbagai provinsi.

    Menurut Salim, saat ini terdapat sekitar 12 mandataris di 12 provinsi.

    Dari jumlah tersebut, tiga provinsi telah melaksanakan musyawarah sehingga tidak lagi berstatus sebagai mandataris, yakni Aceh, Maluku Utara dan Jawa Barat.

    “Ada 12 mandataris di 12 provinsi. Tiga sudah melaksanakan musyawarah, yaitu Aceh, Maluku Utara, dan Jawa Barat,” kata Salim.

    Sementara provinsi lainnya masih dalam proses menuju pembentukan kepengurusan definitif.

    Perkembangan organisasi tersebut berjalan bersamaan dengan upaya memperluas pembinaan atlet dan kompetisi Kun Khmer di berbagai daerah.

    Makassar Jadi Ajang Konsolidasi Atlet dan Organisasi

    Dengan keikutsertaan peserta dari 18 provinsi dan target mencapai 100 peserta, Kejurnas Kun Khmer IV dan Fight Day II menjadi salah satu agenda penting dalam perkembangan olahraga Kun Khmer di Indonesia.

    Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi momentum mempertemukan atlet, camp, pengurus dan komunitas Kun Khmer dari berbagai daerah.

    Persiapan ring pertandingan yang dilakukan hingga Kamis malam menandai bahwa pelaksanaan kejuaraan telah memasuki tahap akhir.

    Selanjutnya, atlet akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan timbang badan pada Jumat pagi sebelum mengikuti upacara pembukaan pada pukul 14.00 WITA.

    Kejurnas Kun Khmer IV dan Fight Day II di Makassar dijadwalkan berlangsung hingga 15 Agustus 2026.

  • Kejurnas Kun Khmer IV Digelar di Makassar, Target 100 Peserta

    Kejurnas Kun Khmer IV Digelar di Makassar, Target 100 Peserta

    FOBIZ.ID, MAKASSAR — Pengurus Besar Federasi Kun Khmer Indonesia (PB FKKI) akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Ke-IV dan Fight Day Ke-2 Kun Khmer Indonesia Tahun 2026 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

    Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 di Café Tetes Kopi, Makassar. Sejumlah peserta dari berbagai daerah di Indonesia dipastikan ambil bagian dalam agenda nasional tersebut.

    Panitia pelaksana Muhammad Ichida Sudirman, Rabu (12/8/2026), mengatakan persiapan terus dilakukan menjelang pelaksanaan Kejurnas. Jumlah peserta juga masih berpotensi bertambah karena pendaftaran dari sejumlah daerah masih berjalan.

    Menurut Ichida, panitia menargetkan sekitar 100 peserta. Hingga saat ini, sekitar 50 peserta telah terdata.

    “Target kita 100 peserta. Sampai saat ini baru sekitar 50 peserta,” ujar Ichida.

    Ichida mengatakan peserta yang masuk berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia. Beberapa di antaranya berasal dari Sumatera, Papua Selatan, dan Papua Barat.

    Kehadiran peserta dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi dalam agenda nasional Kun Khmer Indonesia.

    Panitia, kata Ichida, juga masih mematangkan sejumlah persiapan untuk memastikan pelaksanaan Kejurnas berjalan baik. Salah satu perhatian adalah mekanisme untuk mendapatkan peserta atau atlet terbaik yang nantinya dapat diproyeksikan ke agenda yang lebih tinggi.

    Persiapan tersebut berkaitan dengan pengembangan atlet Kun Khmer Indonesia, termasuk peluang mengikuti agenda di tingkat Asia maupun internasional.

    12 Mandataris di 12 Provinsi

    Selain agenda pertandingan, PB FKKI juga terus melakukan penguatan struktur organisasi di berbagai daerah.

    Sekretaris Jenderal PB FKKI Drs. Salim A. Halik, M.Si. mengatakan saat ini terdapat sekitar 12 mandataris yang tersebar di 12 provinsi.

    Mandataris tersebut menjalankan proses pembentukan dan penguatan organisasi Kun Khmer di tingkat provinsi.

    Dari 12 provinsi tersebut, tiga daerah telah menyelesaikan musyawarah sehingga tidak lagi berstatus sebagai mandataris.

    Ketiga provinsi tersebut adalah Aceh, Maluku Utara, dan Jawa Barat.

    “Ada 12 mandataris di 12 provinsi. Tiga sudah melaksanakan musyawarah, yaitu Aceh, Maluku Utara, dan Jawa Barat. Jadi, tiga itu sudah tidak lagi mandataris,” kata Salim.

    Sementara provinsi lainnya masih berstatus sebagai mandataris. Proses musyawarah akan dilakukan secara bertahap untuk membentuk kepengurusan definitif di masing-masing daerah.

    Jadi Ajang Konsolidasi

    Kejurnas Kun Khmer di Makassar tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi organisasi dan pembinaan atlet.

    Kehadiran peserta dan pengurus dari berbagai wilayah menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan Kun Khmer Indonesia di tingkat daerah.

    Sejumlah perwakilan dari daerah juga telah hadir di Makassar, termasuk dari Maluku Utara dan Papua Barat.

    Dengan target 100 peserta, panitia masih membuka peluang bertambahnya jumlah peserta menjelang pelaksanaan. Hingga saat ini, sekitar separuh dari target peserta telah terdata.

    Kejurnas Ke-IV dan Fight Day Ke-2 Kun Khmer Indonesia Tahun 2026 akan berlangsung selama dua hari. Panitia berharap kegiatan tersebut berjalan lancar sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan memperluas perkembangan Kun Khmer di Indonesia.

    Selain mempertemukan atlet dari berbagai daerah, agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat struktur organisasi PB FKKI di tingkat provinsi serta membuka peluang bagi atlet terbaik Indonesia untuk berkembang  menuju kompetisi tingkat Asia dan internasional. (*)

  • XL7 Terbaru Resmi Meluncur di Makassar, Tampil Lebih Modern

    XL7 Terbaru Resmi Meluncur di Makassar, Tampil Lebih Modern

    FOBIZ.ID, MAKASSAR –  PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) resmi meluncurkan Suzuki XL7 terbaru yang sekaligus menjalani debut global pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Di Makassar, mobil SUV 7 penumpang ini juga diperkenalkan kepada masyarakat melalui pameran di Trans Studio Mall (TSM) yang berlangsung pada 29 Juli hingga 9 Agustus 2026.

    Penyegaran Suzuki XL7 hadir pada tampilan eksterior, interior, hingga fitur keselamatan. Suzuki menawarkan tiga pilihan varian, yakni XL7 New Alpha Hybrid, XL7 New Beta Hybrid, dan XL7 New Zeta.

    Pada bagian eksterior, XL7 terbaru tampil lebih tegas dengan grille baru, lampu kabut LED, velg 16 inci desain baru, lampu belakang beraksen hitam, serta antena shark fin. Khusus varian New Alpha Hybrid, penggunaan aksen hitam dibuat lebih dominan untuk memperkuat kesan gagah.

    Masuk ke kabin, Suzuki menghadirkan sentuhan baru melalui ornamen Metallic Hagane Dark Silver pada dashboard dan konsol tengah. Seluruh varian kini juga dibekali layar sentuh 9 inci yang mendukung Apple CarPlay dan Android Auto, serta teknologi pemrosesan suara Arkamys untuk meningkatkan kualitas audio.

    Dari sisi keselamatan, XL7 New Alpha Hybrid mendapat tambahan fitur 360 View Camera, Tire Pressure Monitoring System (TPMS), dan Digital Video Recorder (DVR). Sementara performanya tetap mengandalkan mesin 1.500 cc K15B dengan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) pada dua varian hybrid yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan.

    Deputy 4W Sales & Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra, mengatakan penyegaran XL7 dilakukan berdasarkan masukan pelanggan tanpa menghilangkan karakter utama kendaraan tersebut.

    “Ketika Suzuki memutuskan untuk melahirkan XL7 terbaru, kami membawa satu misi besar. Kami tidak ingin mengubah apa yang sudah konsumen cintai dari mobil ini, yaitu ketangguhannya, ruang kabinnya yang lega, dan efisiensinya yang luar biasa. Tugas kami adalah mendengarkan cerita pelanggan, lalu menyempurnakan hal-hal yang paling berarti bagi perjalanan seluruh keluarga,” ujar Donny.

    Selain penyegaran desain, Suzuki juga menghadirkan pilihan warna baru seperti Ice Grayish Blue-Black dan Marble Black pada varian Alpha Hybrid, serta Marble Black untuk varian Beta Hybrid dan Zeta.

    Untuk memberikan rasa aman kepada pelanggan, Suzuki menawarkan garansi baterai lithium-ion hingga 8 tahun atau 160.000 kilometer, serta layanan servis gratis hingga 30 bulan atau 50.000 kilometer sesuai ketentuan. Dukungan jaringan dealer, bengkel resmi, suku cadang, teknisi bersertifikasi, hingga layanan digital MySuzuki juga menjadi nilai tambah bagi pemilik kendaraan.

    Donny berharap XL7 terbaru mampu menjawab kebutuhan keluarga Indonesia yang menginginkan SUV nyaman, modern, dan efisien.

    “Melalui penyegaran Suzuki XL7, kami ingin menghadirkan SUV yang semakin relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Strategi kami bukan sekadar memperbarui tampilan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan pengalaman berkendara secara menyeluruh. Kami berharap XL7 terus menjadi pilihan keluarga Indonesia untuk menemani aktivitas sehari-hari maupun berbagai momen berharga,” tutupnya.

  • Nusron Wahid Soroti Rendahnya Sertifikasi Tanah Wakaf di Sulsel

    Nusron Wahid Soroti Rendahnya Sertifikasi Tanah Wakaf di Sulsel

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengungkapkan capaian sertifikasi tanah wakaf di Sulawesi Selatan masih jauh di bawah rata-rata nasional.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Wakaf Kementerian Agama, terdapat 18.159 bidang tanah wakaf yang tercatat di Sulawesi Selatan. Namun, baru 4.516 bidang yang telah memiliki sertifikat atau sekitar 24,87 persen.

    Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan rata-rata nasional yang kini telah mencapai 58 persen.

    Pernyataan itu disampaikan Nusron Wahid saat menghadiri Simposium dan Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Auditorium Universitas Islam Makassar (UIM) Al Gazali, Makassar, Kamis (9/7/2026).

    “Itu masih jauh dari standar nasional. Standar nasional kita sekarang 58 persen, masih sangat jauh,” kata Nusron Wahid.

    Nusron Heran Sulsel Masih Tertinggal

    Nusron mengaku heran karena Sulawesi Selatan selama ini dikenal melahirkan banyak tokoh nasional yang berkiprah di bidang pertanahan maupun pengelolaan wakaf.

    “Ketua Dewan Masjid Indonesia, Bapak KH Jusuf Kalla, dari Sulsel. Kemudian Dirjen yang menangani sertifikasi juga orang Sulsel. Tapi kenapa sertifikat di Sulsel masih di bawah target. Ini menjadi PR,” ujarnya.

    Ia mengajak seluruh civitas akademika perguruan tinggi di Sulawesi Selatan ikut membantu pemerintah mempercepat sertifikasi tanah wakaf melalui kerja sama yang telah disepakati.

    “Saya ingin keluarga besar civitas akademika kampus se-Sulsel membantu pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan MoU tadi. Ini membutuhkan partisipasi semua pihak,” katanya.

    Sertifikasi Rumah Ibadah Jadi Prioritas

    Nusron menegaskan percepatan sertifikasi tanah wakaf menjadi salah satu prioritas selama menjabat Menteri ATR/BPN. Targetnya, seluruh aset rumah ibadah di Indonesia memiliki kepastian hukum melalui sertifikat tanah wakaf.

    Sementara itu, Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al Gazali, Prof Muammar Bakry, mengatakan tanah memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

    “Kalau kita merujuk dalam ayat-ayat Al-Qur’an, setidaknya ada sekitar 600 kali disebut kata-kata tanah dalam Al-Qur’an. Saya kira tanpa tanah maka kita tidak bisa maksimal dalam melakukan aktivitas,” ujarnya.

    Menurutnya, pemerintah menargetkan seluruh masjid dan rumah ibadah memiliki sertifikat tanah wakaf sehingga mempunyai kepastian hukum dan terlindungi dari potensi sengketa.

    “Jadi kalau masjid dan pesantren sudah memiliki sertifikat wakaf, itu sudah aman,” tutup Prof Muammar. (*)

  • TPN XIII Makassar-Gowa Jadi Ruang Kolaborasi Ratusan Guru, Dorong Transformasi Pendidikan

    TPN XIII Makassar-Gowa Jadi Ruang Kolaborasi Ratusan Guru, Dorong Transformasi Pendidikan

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Ratusan guru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Makassar-Gowa yang digelar pada 4-5 Juli 2026. Mengusung tema “Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat kompetensi, dan membangun jejaring dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

    TPN XIII berlangsung di dua lokasi, yakni Sekolah Islam Athirah Makassar dan Rumah Sekolah Cendekia Gowa. Selama dua hari, peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari Bincang Pendidikan, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Kelas Kompetensi, hingga Cerdas Cermat Guru (CCG).

    Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN), Ari Wibowo, mengatakan transformasi pendidikan tidak lahir dari kebijakan semata, melainkan dari guru yang terus belajar dan saling menguatkan.

    “Mutu pembelajaran tidak lahir dari instruksi, tetapi dari guru yang terus bertumbuh dan saling memberdayakan. Ketika guru belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling menginspirasi, di situlah perubahan pendidikan akan tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Ari dalam orasi pendidikannya.

    Salah seorang peserta, Musdalifah Savitri HM, guru SMP Ma’arif Makassar, mengaku kegiatan tersebut memberikan motivasi baru untuk terus meningkatkan kapasitas sebagai pendidik.

    “Saya seperti merasakan bahwa perubahan besar lahir dari keinginan untuk berubah. Semua pembicara menitipkan pesan agar jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti berbagi praktik baik,” katanya.

    Menurut Musdalifah, ruang belajar bersama seperti TPN membuat guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga semangat untuk terus berkembang demi menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

    Hal senada disampaikan Nursanti, S.Pd., guru UPT SPF SD Inpres Maccini Sombala Makassar. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

    “Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai kemajuan. Justru melalui kolaborasi, refleksi, dan semangat gotong royong, setiap tantangan dapat menjadi peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid,” ungkapnya.

    Di Kabupaten Gowa, peserta juga merasakan manfaat serupa. Nurhalima, S.Pd.I., mengapresiasi pelaksanaan talkshow yang menurutnya dikemas ringan namun sarat wawasan.

    “Talkshow dikemas dengan santai tetapi ilmunya benar-benar sampai. Pemateri di setiap kelas juga sangat bagus, dan panitia maupun narasumber terlihat sangat solid,” ujarnya.

    Sementara itu, Suriani, S.Pd., M.M., menilai semangat kolaborasi menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan TPN XIII.

    “Semangat ini harus terus dipertahankan, yaitu kolaborasi, bukan kompetisi. Konsep dari guru, oleh guru, dan untuk guru menjadi kekuatan yang membuat kegiatan ini sangat bermakna,” katanya.

    Rangkaian Bincang Pendidikan menghadirkan Pembina Rumah Sekolah Cendekia Gowa Ratna Juita, Ketua Umum KGBN Ari Wibowo, serta Thoriq Majid dari Guru Belajar Foundation (GBF). Sementara sesi talkshow di Kabupaten Gowa menghadirkan Dewan Pembina KGBN Usman Djabbar, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa Taufiq Mursad, dan Andi Tasri Palussei dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Sulawesi Selatan.

    Dukungan terhadap peningkatan kapasitas guru juga datang dari Pemerintah Kabupaten Gowa. Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, yang membuka kegiatan TPN XIII di Gowa menyatakan komitmennya mendukung pengembangan kompetensi guru, termasuk keberangkatan delegasi guru menuju puncak Temu Pendidik Nusantara di Jakarta.

    Pelaksanaan TPN XIII menjadi pengingat bahwa perubahan pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Melalui ruang belajar bersama, para guru tidak hanya memperkuat kompetensi, tetapi juga membangun jejaring yang diharapkan mampu melahirkan inovasi pembelajaran dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

  • Ketua RW 05 Batua Ubah Wajah Lingkungan, Hilangkan TPS Liar Lewat Gotong Royong

    Ketua RW 05 Batua Ubah Wajah Lingkungan, Hilangkan TPS Liar Lewat Gotong Royong

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Lingkungan yang bersih dan tertata tidak hadir begitu saja. Di balik gang yang rapi, saluran air yang bersih, hingga hilangnya titik pembuangan sampah liar, terdapat peran aktif pengurus wilayah bersama masyarakat.

    Hal itu terlihat di RW 05, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Makassar. Sejak dipercaya memimpin wilayah tersebut, Ketua RW 05, Natsir, mengaku fokus membangun budaya peduli lingkungan melalui kolaborasi bersama para Ketua RT dan warga.

    “RW bukan sekadar jabatan administratif, melainkan jembatan perubahan dan motor penggerak kepedulian lingkungan. Kalau pemimpinnya peduli, masyarakat juga akan ikut bergerak menjaga kebersihan lingkungan,” kata Natsir kepada wartawan.

    Menurutnya, terdapat empat langkah utama yang menjadi dasar penataan lingkungan di RW 05 sehingga kawasan tersebut menjadi lebih bersih, indah, dan asri.

    Langkah pertama adalah membangun sistem pengelolaan kebersihan yang terencana. Natsir mengatakan pihaknya menyusun jadwal pengangkutan sampah secara rutin bersama petugas kebersihan dari dinas terkait.

    Selain itu, pengurus RW juga mengupayakan penyediaan tempat sampah di sejumlah titik fasilitas umum serta menyepakati aturan jam pembuangan sampah bersama warga.

    “Kami ingin pengelolaan sampah tidak dilakukan secara asal. Ada jadwal yang jelas, ada aturan bersama sehingga tidak ada lagi sampah menumpuk di pinggir jalan yang menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan warga,” ujarnya.

    Program kedua adalah menghidupkan kembali budaya gotong royong melalui kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh RT dan masyarakat.

    Dalam kegiatan tersebut, warga membersihkan selokan, memangkas rumput liar, serta merapikan lingkungan untuk mencegah banjir maupun berkembangnya sarang nyamuk penyebab demam berdarah.

    “Gotong royong menjadi kekuatan utama kami. Dengan kebersamaan, pekerjaan yang berat menjadi ringan dan rasa memiliki terhadap lingkungan semakin tumbuh,” ucap Natsir.

    Tak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi perhatian. Pengurus RW mendorong warga mulai memilah sampah rumah tangga melalui program bank sampah serta memanfaatkan limbah organik menjadi kompos.

    “Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi juga bisa dikelola menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi maupun bermanfaat untuk penghijauan lingkungan,” katanya.

    Sebagai langkah terakhir, pengurus RW juga memperkuat pengawasan terhadap kebersihan lingkungan. Warga yang masih membuang sampah sembarangan diberikan teguran secara persuasif.

    Jika ditemukan pembuangan sampah liar dari luar wilayah, pengurus akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk penanganan lebih lanjut.

    “Kami selalu mengedepankan pendekatan persuasif. Namun, aturan tetap harus ditegakkan agar lingkungan yang sudah bersih dapat dipertahankan,” jelasnya.

    Upaya tersebut, lanjut Natsir, mulai menunjukkan hasil. Salah satu perubahan yang paling dirasakan warga adalah hilangnya lokasi pembuangan sampah liar yang sebelumnya kerap menjadi keluhan masyarakat.

    “Kebersihan sebuah wilayah mencerminkan kepemimpinannya. Ketika seorang RW peduli, warga akan dengan sukarela ikut merawat. Alhamdulillah, sekarang lingkungan RW 05 jauh lebih bersih dan tempat pembuangan sampah liar yang dulu ada sudah berhasil kami hilangkan bersama masyarakat,” tutupnya.

  • Mediasi Orang Tua Siswi dan Guru Al Azhar Makassar Belum Tuntas, Pelapor Minta Kompensasi

    Mediasi Orang Tua Siswi dan Guru Al Azhar Makassar Belum Tuntas, Pelapor Minta Kompensasi

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Upaya penyelesaian dugaan perselisihan antara orang tua siswi berinisial I dengan oknum guru berinisial H di SMA Al Azhar Makassar masih berlanjut. Meski kedua belah pihak telah saling memaafkan dalam mediasi yang difasilitasi kepolisian pada Minggu (28/6/2026), perkara tersebut belum sepenuhnya selesai karena pelapor masih menunggu keputusan pihak yayasan terkait permintaan kompensasi yang diajukannya.

    Perkara ini bermula dari insiden yang terjadi saat kegiatan buka puasa bersama di lingkungan SMA Al Azhar Makassar pada 9 Maret 2026. Dalam wawancara khusus dengan FOBIZ.ID, orang tua siswi berinisial I membeberkan kronologi menurut versinya, mulai dari awal kedatangannya ke sekolah hingga akhirnya melaporkan persoalan tersebut ke kepolisian.

    Datang ke Sekolah untuk Menjemput Anak

    Menurut I, pada hari kejadian dirinya semula tidak memiliki rencana datang ke SMA Al Azhar Makassar. Ia mengaku hendak memperbaiki telepon genggam di sebuah tempat servis.

    Namun, di tengah perjalanan ia memutuskan mengubah arah dan singgah ke sekolah untuk menjemput anaknya yang masih mengikuti kegiatan buka puasa bersama.

    “Awalnya saya tidak ada tujuan ke sekolah. Saya mau servis HP. Tetapi di perjalanan saya belok ke sekolah untuk menjemput anak saya,” ujar I.

    Sesampainya di sekolah, anaknya menyampaikan masih ingin mengikuti salat tarawih bersama teman-temannya. Saat menunggu, I memeriksa telepon genggam anaknya.

    Kembali Menemukan Percakapan

    Dari hasil pemeriksaan telepon genggam tersebut, I mengaku kembali menemukan percakapan antara anaknya dengan seorang siswa laki-laki.

    Menurutnya, beberapa waktu sebelumnya ia pernah mengetahui percakapan serupa. Saat itu, ia mengaku menemukan isi percakapan yang berisi ajakan kepada anaknya untuk naik ke lantai empat sekolah yang menurutnya dalam keadaan kosong.

    Karena khawatir, I mengaku telah meminta anaknya memblokir nomor siswa tersebut dan menganggap persoalan telah selesai.

    Namun pada hari kejadian, ia mengaku kembali menemukan percakapan baru yang berisi ajakan bertemu setelah buka puasa dan salat tarawih.

    “Saya pikir persoalannya sudah selesai karena nomor anak itu sudah diblokir. Ternyata saya menemukan lagi percakapan baru yang berisi ajakan bertemu setelah buka puasa dan salat tarawih,” tuturnya.

    Penemuan percakapan tersebut, menurut I, membuat emosinya terpancing sebagai orang tua.

    Memanggil Siswa yang Diajak Berkomunikasi

    Merasa perlu meminta penjelasan, I kemudian meminta anaknya memanggil siswa laki-laki yang dimaksud.

    Saat siswa tersebut datang, I mengaku mempertanyakan alasan mengajak anaknya bertemu, termasuk mengenai dugaan ajakan naik ke lantai empat sekolah yang menurutnya dalam kondisi sepi.

    I mengakui dirinya berbicara dengan nada tinggi karena terbawa emosi.

    Menurutnya, situasi tersebut kemudian menarik perhatian sejumlah guru dan orang tua siswa yang sedang mengikuti kegiatan buka puasa bersama.

    Beberapa guru kemudian menghampiri dan berusaha menenangkan keadaan dengan mengajak I masuk ke ruang guru untuk berbicara lebih lanjut.

    Adu Mulut dengan Oknum Guru

    Sebelum memasuki ruang guru, I mengaku sempat terlibat adu mulut dengan seorang oknum guru berinisial H.

    Menurut pengakuannya, saat itu dirinya meminta agar oknum guru tersebut tidak ikut memarahinya karena ia mengaku sedang menegur anaknya sendiri.

    “Saya bilang, jangan ikut marah sama saya. Yang saya marahi ini anak saya,” kata I.

    Namun, menurut versinya, oknum guru tersebut justru semakin emosi sehingga guru-guru lain berusaha menenangkan kedua belah pihak.

    I kemudian diarahkan masuk ke ruang guru untuk meredakan situasi.

    Meminta Oknum Guru Menyampaikan Permintaan Maaf

    Di dalam ruang guru, menurut I, telah hadir kepala sekolah, sejumlah guru, anaknya, siswa laki-laki yang dipersoalkan, serta perwakilan yayasan.

    Ia mengatakan kepala sekolah dan beberapa guru sempat menyampaikan permintaan maaf atas situasi yang terjadi.

    Namun, menurut I, dirinya menyampaikan bahwa persoalan utamanya bukan kepada kepala sekolah maupun guru lainnya.

    “Saya bilang, yang saya persoalkan bukan bapak-bapak. Yang saya minta hanya satu, guru yang marah kepada saya itu datang dan meminta maaf. Kalau dia minta maaf, saya anggap persoalan selesai,” ujarnya.

    Menurut pengakuannya, pihak sekolah kemudian meminta oknum guru tersebut masuk ke ruang guru untuk dipertemukan dengannya.

    Versi I: Situasi Kembali Memanas di Ruang Guru

    Menurut I, dirinya sempat mengira pertemuan di ruang guru akan menjadi akhir dari persoalan karena berharap oknum guru berinisial H datang untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

    Namun, menurut pengakuannya, situasi justru kembali memanas ketika oknum guru tersebut masuk ke dalam ruangan.

    I mengatakan dirinya hanya mengajukan satu pertanyaan kepada oknum guru tersebut mengenai alasan yang bersangkutan marah kepadanya.

    “Saya hanya bertanya, ‘Kenapa Bapak marah sama saya?’ Itu saja pertanyaan saya,” ujar I.

    Menurut I, pertanyaan tersebut justru memicu emosi oknum guru hingga suasana kembali memanas di dalam ruang guru.

    Menurut pengakuan I, oknum guru berinisial H kemudian berdiri dari tempat duduknya sambil bergeser ke belakang dalam kondisi emosi. Ia mengklaim oknum guru tersebut mengangkat sebuah kursi yang diduga hendak dilempar, namun tindakan itu sempat dihalangi oleh sejumlah guru yang berada di dalam ruangan.

    I mengaku, di hadapan kepala sekolah, sejumlah guru, siswa, anaknya, dan beberapa orang tua siswa, oknum guru tersebut melontarkan kata-kata kasar berupa umpatan “anak s******” sebanyak tiga kali. Menurut I, oknum guru itu juga mengancam dengan mengatakan, “baku cari ki di luar,” sebelum akhirnya ditenangkan dan dibawa keluar ruangan oleh guru-guru lainnya.

    “Guru-guru perempuan langsung menahan kursi itu. Saya melihat mereka berusaha mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang lebih jauh,” katanya.

    Selain itu, I juga mengaku oknum guru tersebut melontarkan kata-kata kasar yang menurutnya tidak pantas diucapkan oleh seorang tenaga pendidik.

    Menurut pengakuannya, oknum guru itu juga mengeluarkan ancaman sambil berusaha mendekati dirinya sebelum akhirnya ditenangkan dan dibawa keluar ruangan oleh guru-guru lainnya.

    FOBIZ.ID belum memperoleh keterangan langsung dari oknum guru berinisial H mengenai pengakuan tersebut.

    Keesokan Hari Datangi Sekolah

    Menurut I, sehari setelah kejadian atau pada 10 Maret 2026, dirinya bersama sejumlah anggota keluarga kembali mendatangi SMA Al Azhar Makassar.

    Ia mengatakan kedatangannya bukan untuk memperpanjang persoalan, melainkan mencari penyelesaian secara kekeluargaan.

    “Saya masih membuka pintu damai. Saya hanya ingin dipertemukan dengan guru tersebut agar dia meminta maaf secara langsung kepada saya,” ujarnya.

    Dalam pertemuan itu, menurut I, pihak sekolah, kepala sekolah, serta perwakilan yayasan menerima kedatangannya dan melakukan mediasi.

    Ia mengaku menyampaikan bahwa dirinya tidak menyalahkan pihak sekolah secara keseluruhan.

    “Saya sampaikan, saya tidak menyalahkan kepala sekolah ataupun yayasan. Yang saya persoalkan hanya sikap oknum guru tersebut,” katanya.

    Namun, menurut I, pihak sekolah menyampaikan bahwa mereka memiliki mekanisme tersendiri dalam menangani persoalan tersebut sehingga tidak dapat langsung mempertemukannya kembali dengan oknum guru.

    Menurutnya, pihak sekolah juga menyampaikan bahwa kondisi emosional kedua belah pihak saat itu dinilai belum kondusif untuk dipertemukan.

    I mengaku menghormati penjelasan tersebut, tetapi tetap berharap permintaan maaf dapat dilakukan secara langsung.

    Upaya Mediasi Berlangsung Berbulan-bulan

    Setelah pertemuan tersebut, I mengatakan komunikasi antara dirinya dengan pihak sekolah masih terus berlangsung.

    Menurutnya, sejumlah upaya mediasi telah dilakukan dalam beberapa bulan berikutnya, baik melalui pertemuan maupun korespondensi.

    Namun, ia menilai seluruh upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang dianggap memenuhi harapannya.

    “Beberapa kali kami dimediasi, beberapa kali juga menyurat. Tetapi menurut saya belum ada penyelesaian yang benar-benar tuntas,” ujarnya.

    I mengatakan dirinya sejak awal hanya menginginkan penyelesaian secara baik-baik.

    Namun karena menurutnya persoalan tidak kunjung memperoleh titik temu, ia akhirnya menempuh jalur hukum dengan melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian.

    Mediasi di Kepolisian

    Laporan tersebut kemudian berlanjut ke proses mediasi yang difasilitasi penyidik kepolisian pada Minggu (28/6/2026).

    Dalam mediasi tersebut, menurut I, dirinya dan oknum guru berinisial H telah dipertemukan secara langsung.

    Ia mengaku telah memaafkan oknum guru tersebut dan menerima permintaan maaf yang disampaikan secara langsung.

    Meski demikian, I menegaskan bahwa penyelesaian perkara belum sepenuhnya berakhir.

    Selain meminta permintaan maaf, ia juga mengajukan permintaan kompensasi kepada pihak sekolah sebagai bagian dari penyelesaian perkara.

    Menurut I, permintaan tersebut telah disampaikan dalam forum mediasi dan kini masih menunggu keputusan resmi dari Yayasan Al Azhar Makassar.

    Di samping itu, I juga mengaku masih mempertanyakan sanksi internal yang disebut telah dijatuhkan kepada oknum guru.

    Menurutnya, sejak beberapa bulan lalu ia telah beberapa kali meminta agar diperlihatkan dokumen Surat Peringatan (SP) 2 yang disebut menjadi dasar pemberian sanksi kepada oknum guru tersebut.

    “Saya sudah beberapa kali meminta diperlihatkan surat SP2 itu. Tetapi sampai hari ini saya belum pernah melihat dokumennya. Yang saya terima hanya penjelasan secara lisan,” kata I.

    Karena itu, I mengaku masih menunggu penjelasan resmi dari pihak yayasan mengenai permintaan kompensasi maupun bukti sanksi internal yang disebut telah dijatuhkan kepada oknum guru tersebut.

    Tim Legal Yayasan Al Azhar: Pelapor dan Terlapor Sudah Saling Memaafkan

    Sementara itu, Tim Legal Yayasan Al Azhar Makassar, Ardiansyah Arsyad, menyampaikan bahwa proses mediasi yang difasilitasi kepolisian telah mempertemukan pelapor dan terlapor secara langsung.

    Menurut Ardiansyah, dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak telah saling menyampaikan permohonan maaf sehingga persoalan secara personal dinilai telah selesai.

    “Sebetulnya persoalan ini sudah kami anggap selesai. Antara pelapor dengan terlapor sudah saling memaafkan,” kata Ardiansyah kepada wartawan usai mediasi.

    Meski demikian, ia menjelaskan bahwa proses penyelesaian perkara belum sepenuhnya berakhir karena pelapor mengajukan permintaan kompensasi kepada pihak sekolah.

    “Permohonan maaf secara lisan ternyata belum mengakomodasi kepentingan pelapor. Pelapor meminta kompensasi kepada sekolah,” ujarnya.

    Ardiansyah menegaskan dirinya tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan terkait permintaan tersebut karena hanya bertindak sebagai pendamping hukum Yayasan Al Azhar Makassar.

    “Saya bukan pengambil keputusan. Saya hanya mendampingi secara legal. Persoalan kompensasi itu akan kami sampaikan kepada pihak sekolah dan yayasan sebagai pengambil kebijakan,” katanya.

    Alasan Pertemuan Dilakukan di Kepolisian

    Ardiansyah menjelaskan, pihak sekolah pada dasarnya telah beberapa kali berupaya mempertemukan pelapor dan terlapor setelah insiden terjadi.

    Menurutnya, pada hari kejadian kedua belah pihak sebenarnya sempat dipertemukan. Namun, situasi saat itu masih dipenuhi emosi sehingga pertemuan tidak menghasilkan penyelesaian.

    Ia mengatakan sekolah kemudian kembali merencanakan beberapa kali pertemuan lanjutan. Akan tetapi, menurutnya, waktu dan kondisi yang dinilai belum kondusif membuat pertemuan tersebut tidak terlaksana.

    Ardiansyah juga mengungkapkan bahwa setelah mengetahui perkara telah dilaporkan ke kepolisian, pihak sekolah mempertimbangkan aspek keamanan apabila mempertemukan kedua belah pihak di lingkungan sekolah.

    “Kami khawatir kalau dipertemukan di sekolah, kami tidak bisa menjamin keamanannya. Karena itu kami berpandangan lebih baik pertemuan dilakukan dalam proses mediasi di kepolisian,” ujarnya.

    Yayasan Sebut Sekolah Sudah Menjatuhkan Sanksi

    Selain menjelaskan hasil mediasi, Ardiansyah menyampaikan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah internal terhadap oknum guru berinisial H.

    Menurutnya, setelah insiden tersebut sekolah menggelar rapat dan memutuskan menjatuhkan sanksi berupa Surat Peringatan (SP) 2 disertai skorsing selama kurang lebih tiga bulan.

    “Setelah kejadian, sekolah rapat kemudian memutuskan memberikan tindakan tegas berupa SP2 kepada oknum guru tersebut, disertai skorsing selama kurang lebih tiga bulan,” ujarnya.

    Ardiansyah menambahkan, selama menjalani masa skorsing, oknum guru tersebut juga tidak menerima gaji sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan pihak sekolah.

    “Selama masa skorsing, yang bersangkutan juga tidak menerima gaji. Jadi sekolah sudah mengambil tindakan tegas,” katanya.

    Pelapor Pertanyakan Bukti SP2

    Menanggapi penjelasan tersebut, I mengaku masih mempertanyakan keberadaan dokumen SP2 yang disebut telah dijatuhkan kepada oknum guru.

    Menurutnya, sejak beberapa bulan terakhir dirinya telah beberapa kali meminta agar pihak sekolah memperlihatkan salinan atau bukti tertulis mengenai SP2 tersebut.

    Namun hingga proses mediasi pada Minggu (28/6/2026), I mengaku belum pernah diperlihatkan dokumen yang dimaksud.

    “Saya hanya menerima penjelasan secara lisan. Karena itu saya masih menunggu bukti tertulis mengenai SP2 tersebut,” ujar I.

    Sementara itu, Ardiansyah tetap menegaskan bahwa sanksi internal tersebut telah dijatuhkan oleh pihak sekolah berdasarkan hasil rapat internal.

    Menunggu Keputusan Yayasan

    Ardiansyah mengatakan hasil mediasi telah dituangkan dalam berita acara. Menurutnya, persoalan yang masih menunggu keputusan adalah permintaan kompensasi yang diajukan pelapor.

    Ia menegaskan keputusan mengenai permintaan tersebut bukan menjadi kewenangannya sebagai pendamping hukum, melainkan akan diputuskan oleh pihak yayasan dan sekolah.

    “Nanti kami akan menyampaikan kepada pelapor maupun kuasa hukumnya seperti apa keputusan dari pihak yayasan,” ujarnya.

    Di sisi lain, I menyatakan tetap membuka ruang penyelesaian secara damai. Menurutnya, dirinya telah memaafkan oknum guru yang bersangkutan, namun masih menunggu keputusan resmi yayasan terkait permintaan kompensasi yang diajukannya.

    Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keputusan resmi dari Yayasan Al Azhar Makassar mengenai permintaan kompensasi tersebut.

    Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan hasil wawancara langsung FOBIZ.ID dengan orang tua siswi berinisial I serta Tim Legal Yayasan Al Azhar Makassar, Ardiansyah Arsyad, usai proses mediasi pada Minggu (28/6/2026). Seluruh uraian mengenai dugaan tindakan oknum guru merupakan keterangan versi pelapor dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh redaksi. FOBIZ.ID tetap membuka ruang hak jawab kepada pihak SMA Al Azhar Makassar, Yayasan Al Azhar Makassar, maupun oknum guru berinisial H apabila ingin memberikan klarifikasi atau tanggapan lebih lanjut sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

  • Ribuan Pekerja SPPG Makassar Khawatir Kehilangan Pekerjaan, Desak Program MBG Tetap Berjalan

    Ribuan Pekerja SPPG Makassar Khawatir Kehilangan Pekerjaan, Desak Program MBG Tetap Berjalan

    Ribuan Pekerja SPPG Suarakan Kekhawatiran di DPRD Sulsel

    MAKASSAR, FOBIZ.ID — Ribuan pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar aksi penyampaian aspirasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (24/6/2026). Mereka meminta pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan dan tidak dihentikan.

    Aksi tersebut dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait evaluasi dan penataan ulang program yang dinilai dapat berdampak terhadap operasional sejumlah SPPG. Para pekerja khawatir perubahan kebijakan tersebut berujung pada pengurangan tenaga kerja hingga kehilangan mata pencaharian.

    Massa aksi bergerak menuju Gedung DPRD Sulawesi Selatan setelah berkumpul di kawasan Makassar. Dalam kegiatan tersebut, peserta membawa sejumlah spanduk berisi aspirasi agar Program MBG tetap dilanjutkan karena dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

    MBG Dinilai Buka Lapangan Kerja Baru

    Bagi para pekerja SPPG, Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.

    Sejumlah pekerja mengungkapkan bahwa keberadaan dapur pelayanan gizi telah membuka peluang kerja baru bagi masyarakat yang sebelumnya bekerja di sektor informal.

    Salah satu peserta aksi menyampaikan bahwa pekerjaan di SPPG memberikan perubahan besar dalam kehidupan keluarganya karena memiliki penghasilan yang lebih stabil dibanding pekerjaan sebelumnya.

    Menurut pekerja, keberlanjutan program ini juga berdampak pada banyak sektor lain, mulai dari pemasok bahan pangan, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi makanan.

    Pekerja Minta Evaluasi Tidak Mengorbankan Lapangan Kerja

    Para pekerja tidak menolak adanya evaluasi terhadap Program MBG. Namun mereka berharap proses perbaikan dilakukan tanpa menghilangkan kesempatan kerja yang sudah tercipta.

    Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi sebelum mengambil keputusan terkait operasional SPPG di berbagai daerah.

    Menurut mereka, ribuan keluarga kini menggantungkan penghasilan dari aktivitas SPPG. Jika operasional dihentikan secara tiba-tiba, dampaknya tidak hanya dirasakan pekerja, tetapi juga masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem program tersebut.

    DPRD Sulsel Jadi Tujuan Penyampaian Aspirasi

    Aksi yang berlangsung di kawasan DPRD Sulawesi Selatan tersebut menjadi ruang bagi pekerja untuk menyampaikan keresahan mereka secara langsung kepada pemerintah daerah dan legislatif.

    Selain meminta keberlanjutan MBG, massa juga berharap pemerintah memberikan kepastian mengenai arah kebijakan program ke depan.

    Sebelumnya, evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis menjadi perhatian karena pemerintah melakukan penataan terhadap pelaksanaan program di sejumlah wilayah. Kondisi itu membuat sebagian pekerja SPPG mulai mempertanyakan keberlangsungan pekerjaan mereka.

    Program MBG dan Harapan Ekonomi Masyarakat

    Bagi para pekerja SPPG, MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi bagian dari pergerakan ekonomi masyarakat.

    Mereka berharap pemerintah dapat menjaga keberlangsungan program sekaligus memperbaiki sistem pelaksanaannya agar lebih efektif dan tepat sasaran.

    Aksi tersebut menjadi gambaran bahwa kebijakan publik memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama kelompok pekerja yang bergantung pada program pemerintah. (*)