FOBIZ.ID, MAKASSAR – Lingkungan yang bersih dan tertata tidak hadir begitu saja. Di balik gang yang rapi, saluran air yang bersih, hingga hilangnya titik pembuangan sampah liar, terdapat peran aktif pengurus wilayah bersama masyarakat.
Hal itu terlihat di RW 05, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Makassar. Sejak dipercaya memimpin wilayah tersebut, Ketua RW 05, Natsir, mengaku fokus membangun budaya peduli lingkungan melalui kolaborasi bersama para Ketua RT dan warga.
“RW bukan sekadar jabatan administratif, melainkan jembatan perubahan dan motor penggerak kepedulian lingkungan. Kalau pemimpinnya peduli, masyarakat juga akan ikut bergerak menjaga kebersihan lingkungan,” kata Natsir kepada wartawan.
Menurutnya, terdapat empat langkah utama yang menjadi dasar penataan lingkungan di RW 05 sehingga kawasan tersebut menjadi lebih bersih, indah, dan asri.
Langkah pertama adalah membangun sistem pengelolaan kebersihan yang terencana. Natsir mengatakan pihaknya menyusun jadwal pengangkutan sampah secara rutin bersama petugas kebersihan dari dinas terkait.
Selain itu, pengurus RW juga mengupayakan penyediaan tempat sampah di sejumlah titik fasilitas umum serta menyepakati aturan jam pembuangan sampah bersama warga.
“Kami ingin pengelolaan sampah tidak dilakukan secara asal. Ada jadwal yang jelas, ada aturan bersama sehingga tidak ada lagi sampah menumpuk di pinggir jalan yang menimbulkan bau dan mengganggu kenyamanan warga,” ujarnya.
Program kedua adalah menghidupkan kembali budaya gotong royong melalui kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh RT dan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, warga membersihkan selokan, memangkas rumput liar, serta merapikan lingkungan untuk mencegah banjir maupun berkembangnya sarang nyamuk penyebab demam berdarah.
“Gotong royong menjadi kekuatan utama kami. Dengan kebersamaan, pekerjaan yang berat menjadi ringan dan rasa memiliki terhadap lingkungan semakin tumbuh,” ucap Natsir.
Tak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi perhatian. Pengurus RW mendorong warga mulai memilah sampah rumah tangga melalui program bank sampah serta memanfaatkan limbah organik menjadi kompos.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi juga bisa dikelola menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi maupun bermanfaat untuk penghijauan lingkungan,” katanya.
Sebagai langkah terakhir, pengurus RW juga memperkuat pengawasan terhadap kebersihan lingkungan. Warga yang masih membuang sampah sembarangan diberikan teguran secara persuasif.
Jika ditemukan pembuangan sampah liar dari luar wilayah, pengurus akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk penanganan lebih lanjut.
“Kami selalu mengedepankan pendekatan persuasif. Namun, aturan tetap harus ditegakkan agar lingkungan yang sudah bersih dapat dipertahankan,” jelasnya.
Upaya tersebut, lanjut Natsir, mulai menunjukkan hasil. Salah satu perubahan yang paling dirasakan warga adalah hilangnya lokasi pembuangan sampah liar yang sebelumnya kerap menjadi keluhan masyarakat.
“Kebersihan sebuah wilayah mencerminkan kepemimpinannya. Ketika seorang RW peduli, warga akan dengan sukarela ikut merawat. Alhamdulillah, sekarang lingkungan RW 05 jauh lebih bersih dan tempat pembuangan sampah liar yang dulu ada sudah berhasil kami hilangkan bersama masyarakat,” tutupnya.




