Tag: ITS

  • Kasus Pencemaran Nama Baik Mahasiswi ITS: Identitas Disalahgunakan untuk Jual Konten Tidak Senonoh

    Kasus Pencemaran Nama Baik Mahasiswi ITS: Identitas Disalahgunakan untuk Jual Konten Tidak Senonoh

    SURABAYA, 19 OKTOBER 2025 — Sebuah kasus pencemaran nama baik dan pelecehan daring mengguncang lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Seorang mahasiswi bernama Cherry Luisa Araki menjadi korban penyalahgunaan identitas oleh rekan kampusnya sendiri, Jonathan Wijaya.

    Menurut informasi yang beredar, Jonathan diduga menggunakan foto dan nama Cherry untuk membuat akun media sosial palsu. Melalui akun tersebut, ia memasarkan konten-konten tidak senonoh dengan mengklaim bahwa perempuan dalam konten tersebut adalah Cherry. Aksi ini terungkap setelah akun X (sebelumnya Twitter) bernama @netoismine & @alldayonmarzz mempublikasikan dugaan tindakan kriminal tersebut, yang kemudian menyadarkan korban bahwa identitasnya telah disalahgunakan.

    Cherry, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun baik maupun buruk dengan pelaku. Ia juga menyampaikan bahwa tindakan tersebut sangat merugikan nama baik dan integritas pribadinya.

    Kasus ini semakin mendapat sorotan publik setelah sejumlah anggota komunitas “Diskusi Kripto Indonesia” (DKI) turut angkat bicara. Mereka menyuarakan keprihatinan dan mendukung korban, sekaligus memperjelas bahwa tidak ada hubungan khusus antara Cherry dan pelaku. Dukungan ini memperkuat posisi korban dan mendorong pihak kampus untuk segera mengambil tindakan.

    Menanggapi kasus ini, pihak kampus ITS bersama Himpunan Mahasiswa dan Tim Pembina Kerohanian Buddha ITS telah mengambil langkah tegas. Jonathan Wijaya diberhentikan secara tidak hormat dari organisasi keagamaan yang ia ikuti. Proses mediasi antara pihak kampus dan korban juga sedang berlangsung.

    Namun, muncul kekhawatiran baru dari sejumlah pihak terkait potensi serangan siber yang disebut-sebut akan dilancarkan oleh sebuah perusahaan IT bernama Artha Digital, yang diduga memiliki afiliasi politik. Ancaman ini dikabarkan akan direalisasikan apabila kampus tidak menindaklanjuti kasus ini secara serius. Meski demikian, Cherry menegaskan bahwa ia tidak memiliki keterkaitan apapun dengan entitas tersebut, dan tidak mengetahui adanya rencana serangan siber terhadap individu di lingkungan kampus maupun komunitas kripto yang dibentuk oleh pelaku.

    Kasus ini menjadi pengingat keras akan bahaya penyalahgunaan identitas di dunia maya, serta pentingnya peran institusi pendidikan dalam melindungi warganya dari kejahatan digital. (rilis)