Tag: Film Indonesia

  • Dwi Sasono Jadi Ayah Bermasalah di Jangan Buang Ibu

    Dwi Sasono Jadi Ayah Bermasalah di Jangan Buang Ibu

     

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Aktor Dwi Sasono tampil berbeda dalam film terbaru berjudul Jangan Buang Ibu. Dalam trailer resmi yang baru dirilis, Dwi memerankan sosok ayah problematik yang kerap melontarkan kata-kata kasar, membentak, hingga melakukan kekerasan fisik terhadap keluarganya.

     

    Film produksi Leo Pictures ini menghadirkan kisah emosional tentang perjuangan seorang ibu membesarkan tiga anaknya di tengah absennya figur ayah. Trailer terbaru juga memperlihatkan dampak yang dirasakan anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.

     

    Bagi Dwi Sasono, memerankan karakter ayah yang jauh dari sosok ideal menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, ia dikenal publik sebagai sosok yang dekat dengan keluarga.

     

    “Dia punya harapan yang terbaik untuk anaknya. Dia tidak mau anaknya gagal seperti dia,” ujar Dwi Sasono mengenai karakter yang diperankannya.

     

    Di sisi lain, Dwi mengungkapkan pandangannya tentang pola asuh anak. Menurutnya, anak bukanlah milik orang tua sepenuhnya, melainkan individu yang memiliki jalan hidup masing-masing.

     

    “Saya percaya anak-anak saya itu bukan milik saya, tapi mereka itu milik semesta. Setiap kelahiran punya misinya masing-masing dan blueprint-nya sendiri,” katanya.

     

    Film ini juga menyoroti karakter Tria yang diperankan oleh Saputra Kori. Tria digambarkan sebagai anak bungsu yang tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya sejak dalam kandungan. Kondisi tersebut membuatnya menjalani masa remaja yang penuh gejolak, meski kasih sayang sang ibu membantunya bangkit dan memperbaiki diri.

     

    Jangan Buang Ibu dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 25 Juni 2026. Film ini mengangkat isu keluarga, pola asuh, dan pentingnya kehadiran orang tua dalam tumbuh kembang anak, yang menjadi tema dekat dengan kehidupan banyak keluarga Indonesia.

     

     

  • Deretan Bintang Ramaikan Film Tunggu Aku Sukses Nanti Tayang Lebaran 2026

    Deretan Bintang Ramaikan Film Tunggu Aku Sukses Nanti Tayang Lebaran 2026

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Film Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi salah satu film Indonesia yang akan meramaikan layar bioskop pada Lebaran 2026. Film ini menghadirkan kisah tentang perjuangan hidup seorang pria bernama Arga yang diperankan oleh Ardit Erwandha.

    Arga digambarkan sebagai sosok yang masih mencari pekerjaan dan merasa tertinggal dibandingkan keluarga besarnya yang telah sukses lebih dulu.

    Selain menghadirkan cerita yang relatable, film ini juga didukung oleh deretan aktor dan aktris ternama Indonesia.

    Beberapa di antaranya adalah Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Ashel, Maudy Effrosina, Fita Anggriani, Reza Chandika, Niniek L. Karim, Ayu Laksmi, Renitasari Adrian, Jamie Aditya, Afgan, Sarah Sechan, Marcella FP, Petra Gabriel Michael, Gusty Pratama, Rudy Kawilarang, Mitchel Surjadi, Ziyan, Arie Kriting, Soleh Solihun, Indra Brasco, Jourdy Pranata, dan Yono Bakrie.

    Film ini juga menghadirkan penampilan spesial dari sejumlah bintang seperti Tara Basro dan Sheila Dara.

    Disutradarai oleh Naya Anindita, film Tunggu Aku Sukses Nanti diproduksi oleh RAPI Films bersama Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Vortera Studios.

    Film ini dijadwalkan tayang di bioskop  Indonesia pada Lebaran 2026.

  • Suka Duka Tawa, Kisah Komika Perempuan yang Menertawakan Luka Hidupnya

    Suka Duka Tawa, Kisah Komika Perempuan yang Menertawakan Luka Hidupnya

     

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Makassar kembali mencatatkan namanya dalam peta perfilman nasional. Minggu sore, 28 Desember 2025, satu studio di Studio 21 Mal Panakkukang penuh sesak oleh penonton yang datang dengan ras penasaran.

    Mereka bukan sekadar ingin menonton trailer film, tetapi ingin menjadi bagian dari momen awal sebuah cerita yang menjanjikan tawa sekaligus air mata: Suka Duka Tawa.

    Kota Daeng terpilih sebagai lokasi penayangan perdana official trailer dan poster film produksi BION Studios bersama Spasi Moving Image ini. Begitu layar menyala, suasana studio berubah hening, seolah semua penonton sepakat menahan napas untuk menyelami kisah yang ditawarkan.

    Suka Duka Tawa menandai debut film panjang sutradara Aco Tenriyagelli. Lewat genre drama komedi keluarga, Aco membawa penonton masuk ke dunia Tawa, seorang komika perempuan yang hidupnya tampak ringan di atas panggung, namun menyimpan beban emosional yang tak pernah benar-benar selesai.

    Rachel Amanda, yang memerankan tokoh utama Tawa, menyebut cerita film ini sangat dekat dengan realitas banyak orang. Di balik kelincahan melontarkan punchline, Tawa menjadikan pengalaman hidupnya sebagai bahan lawakan, termasuk luka lama akibat ditinggal sang ayah sejak kecil. Tawa tertawa, agar orang lain tidak melihat betapa rapuh dirinya.

    Konflik film mulai memuncak saat sosok ayah yang menghilang selama dua dekade, Keset, tiba-tiba kembali. Diperankan Teuku Rifnu Wikana, kehadiran Keset bukan membawa kelegaan, melainkan guncangan besar. Hubungan Tawa dengan ibunya, yang diperankan Marissa Anita, ikut terguncang. Rumah yang selama ini terasa aman, perlahan menjadi ruang penuh pertanyaan dan kemarahan yang terpendam.

    Trailer memperlihatkan perjalanan emosional Tawa dari panggung stand up yang penuh sorak tawa hingga ruang keluarga yang sunyi dan penuh ketegangan. Pertanyaan tentang memaafkan menjadi benang merah cerita: apakah seseorang wajib memaafkan orang yang telah melukainya, hanya karena ia kembali?

    Nuansa getir cerita diperkuat dengan lagu Bunga Maaf dari The Lantis yang mengalun lembut namun menyayat. Musik menjadi jembatan emosi antara tawa dan luka, antara marah dan rindu yang tak terucap.

    Film ini juga diramaikan oleh kehadiran para komedian lintas generasi. Pandji Pragiwaksono, Bintang Emon, Arif Brata, Gilang Bhaskara, hingga Enzy Storia, tampil memperkaya semesta komedi yang terasa akrab sekaligus reflektif. Pertemuan komedian televisi dan komika stand-up menghadirkan dinamika unik yang jarang disajikan dalam satu film.

    Produser Tersi Eva Ranti menyebut Suka Duka Tawa sebagai film yang penuh perbenturan kontras, mulai dari generasi pelawak, pilihan musik, hingga pendekatan visual dan penceritaan. Menurutnya, Aco Tenriyagelli menawarkan sudut pandang segar yang berani dan penuh kejutan, menghadirkan komedi yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga mengajak penonton bercermin.

    Selain Rachel Amanda, filmm ini dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Nazira C. Noer, Abdel Achrian, dan Mang Saswi. Bersama-sama, mereka merangkai kisah tentang keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu.

    Suka Duka Tawa dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop seluruh Indonesia mulai 8 Januari 2026. Sebuah film yang mengingatkan bahwa di balik setiap tawa, sering kali tersimpan cerita yang tak pernah benar-benar lucu.

  • Lyora: Film Menggugah Tentang Harapan dan Luka Sunyi Para Pejuang Garis Dua

    Lyora: Film Menggugah Tentang Harapan dan Luka Sunyi Para Pejuang Garis Dua

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Suasana penuh haru menyelimuti pemutaran khusus film Lyora: Penantian Buah Hati yang digelar di TSM XXI Makassar. Ratusan penonton hadir, sebagian besar adalah pasangan yang tengah berjuang mendapatkan keturunan mereka yang kerap dijuluki sebagai pejuang garis dua, Rabu (23/7/2025).

    Pemutaran ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow sebelum film Lyora tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 7 Agustus 2025 mendatang. Film ini tak sekadar menawarkan tontonan, tapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan emosional bagi mereka yang berada dalam perjalanan panjang menantikan kehadiran seorang anak.

    Disutradarai oleh Pritagita Arianegara dan diproduseri Virgie Baker, Lyora mengangkat kisah tentang Meutya, diperankan oleh Marsha Timothy, seorang perempuan karier yang bersama suaminya, Fajrie (Darius Sinathrya), berjuang untuk memiliki anak. Proses yang mereka jalani tidak mudah: dari inseminasi hingga program bayi tabung, keduanya menghadapi kegagalan, tekanan sosial, hingga dinamika emosional yang nyaris mematahkan.

    Menurut Pritagita, film ini merekam realitas yang kerap tersembunyi dari mata publik—beban sosial yang menimpa perempuan, yang sering kali disalahkan ketika pasangan belum dikaruniai anak. Ia berharap Lyora bisa menjadi representasi dan penghibur bagi mereka yang tengah berjuang dalam senyap.

    “Kami ingin menghadirkan pelukan lewat layar, bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri dalam perjuangan ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa cerita dalam film ini juga sangat pribadi. Pritagita pernah menjalani pernikahan selama lima tahun tanpa kehadiran anak, sebelum akhirnya berpisah.

    Tekanan dan ekspektasi sosial yang ia alami kala itu, menjadi bahan bakar emosional dalam menyutradarai film ini. Tak hanya itu, ia juga menyinggung tentang masa lalunya sebagai anak dari seorang ibu yang melahirkannya di usia sangat muda. Pengalaman itu membuatnya memahami betapa berharganya proses kelahiran dan peran seorang ibu, dari sisi lain yang lebih mendalam.

    Acara screening ini juga dihadiri oleh penyanyi dan aktris Chintya Lamusu, yang secara terbuka mengakui bahwa film ini menyentuh sisi paling dalam dari hidupnya. Ia pernah berada di posisi Meutya, menjalani proses panjang penuh harapan dan ketakutan.

    “Film ini bukan hanya cerita fiksi. Ini adalah napas dari pengalaman nyata yang saya dan banyak perempuan alami,” tuturnya. Ia menilai Lyora dapat memberi harapan baru dan dorongan semangat bagi pejuang garis dua di Makassar dan daerah lainnya.

    Didukung oleh sejumlah mitra seperti RS Bunda, Morula IVF, Garuda Indonesia, dan Livin’ by Mandiri, film Lyora tak hanya membawa pesan personal, tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih memahami dan berempati terhadap isu infertilitas yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.

    Turut dihadiri dr. Fery Wijaya, SpOG, Subsp FER (K), dalam Nobar & Talkshow, ia mengatakan selalu ada harapan, untuk yang belum memiliki momongan untuk selalu berusaha dan tidak putus harapan.

    “Waktu terbaik memulai program IVF, bila setelah setahun usia pernikahan harus mencoba mencari penyebab, disarankan sedini mungkin untuk memeriksakan ke Dokter karena ada usia dan waktu terbaik untuk memiliki momongan,” jelas dr. Fery.

    Film ini menjadi bukti bahwa harapan selalu ada, selama cinta, usaha, dan doa tak pernah padam.

  • Kisah Nyata Pernikahan Kembar Tiga Bersaudara Asal Makassar Diangkat ke Layar Lebar dalam Film Jodoh 3 Bujang

    Kisah Nyata Pernikahan Kembar Tiga Bersaudara Asal Makassar Diangkat ke Layar Lebar dalam Film Jodoh 3 Bujang

    FOBIZ ID, MAKASSAR – Sebuah kisah unik dari Makassar kembali menjadi sorotan nasional setelah diangkat ke layar lebar. Film berjudul Jodoh 3 Bujang yang disutradarai oleh Arfan Sabran, menceritakan kisah nyata tiga bersaudara asal Makassar Fadly, Kifly, dan Ahmad yang melangsungkan pernikahan kembar, atau menikah secara bersamaan.

    Kisah mereka sempat viral beberapa waktu lalu dan bahkan pernah dijadikan film dokumenter. Kini, cerita penuh tawa dan haru itu dituangkan dalam format komedi romantis oleh Starvision dan Rhaya Flicks.

    Film ini mengikuti perjalanan Fadly (diperankan oleh Jourdy Pranata) yang harus menemukan jodoh dalam waktu singkat agar bisa menikah bersama dua saudaranya sesuai permintaan orangtua mereka. Ketiga karakter utama dalam film Fadly, Kifly, dan Ahmad menggunakan nama asli tokoh nyata, yang menambah kesan autentik dari film ini.

    Salah satu tokoh penting dalam kisah ini adalah Hj. Hamira, ibu kandung dari Fadly, Kifly, dan Ahmad. Ia mengaku terharu saat menyaksikan adegan dalam film yang sangat mirip dengan kejadian sebenarnya saat ia mencarikan jodoh untuk Fadly.

    “Teringat lagi masa-masa saat buruk, saya setiap hari menangis. Dua anak saya sudah siap (untuk menikah kembar), tapi yang satu belum. Jadi saya berpikir, ada anaknya teman saya. Saya jodohkan saja. Eh, ternyata Fadly-nya enggak setuju. Itu yang ada di film, persis jalan ceritanya,” kata Hj. Hamira saat diwawancarai di Makassar.

    Ia pun menceritakan momen lucu yang ditampilkan secara nyata dalam film.

    “Jadi foto anak teman saya yang ditunjukkan ke saya itu, adalah foto 10 tahun yang lalu. Dia (Fadly) bilang, ‘ih Mamak, sembarangnya!’ Saya ketawa sekaligus sedih waktu lihat di film, karena memang itu kejadian yang kami alami sendiri,” lanjutnya.

    Jodoh 3 Bujang telah berhasil menarik lebih dari 525 ribu penonton sejak penayangannya. Dengan latar budaya Bugis-Makassar yang kuat, terutama dalam tradisi uang panai, film ini menyentuh berbagai aspek sosial dan budaya yang relevan bagi banyak keluarga Indonesia.

    “Kalau budaya kami itu, kalau memang orangnya suka, ya uang panai itu tidak minta yang terlalu berlebihan. Disesuaikan dengan kemampuan orangnya. Kecuali kalau memang orangnya tidak suka, misal ada sifatnya yang kurang disukai, maka dihantam dengan uang panai, ini sebenarnya sebagai cara untuk menolak secara halus,” terang Hj. Hamira menjelaskan nilai budaya yang turut mewarnai cerita.

    Film ini diproduksi oleh Starvision dan Rhaya Flicks, dengan produser Chand Parwez Servia dan Futih Aljihadi. Turut membintangi film ini antara lain Christoffer Nelwan sebagai Kifly, Rey Bong sebagai Ahmad, Aisha Nurra Datau, Maizura, Barbie Arzetta, dan aktor-aktor kawakan seperti Cut Mini, Arswendy Bening Swara, dan Nugie.

    Mengangkat tema keluarga, jodoh, dan tradisi dalam balutan komedi romantis, Jodoh 3 Bujang menjadi film yang tidak hanya menghibur, tapi juga menyentuh dan memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang ringan namun bermakna.

    Film ini juga memperkuat rekam jejak Starvision sebagai rumah produksi yang konsisten menghadirkan karya populer dan bernilai budaya. Sejumlah lagu seperti “Seberapa Pantas” dari Sheila On 7, “Celengan Rindu” dari Fiersa Besari, dan “Bersamamu” dari Jaz turut memperkuat emosi dalam film.

    Jodoh 3 Bujang kini tayang di bioskop seluruh Indonesia dan mengajak penonton untuk menikmati kisah nyata yang penuh warna, tawa, dan makna dari tiga bujang Makassar yang bersatu dalam ikatan pernikahan dan tradisi.

  • ‘Kisah Nyata’ EVA Pendakian Terakhir Bakal Tayang di XXI Makassar, Catat Tanggalnya!

    ‘Kisah Nyata’ EVA Pendakian Terakhir Bakal Tayang di XXI Makassar, Catat Tanggalnya!

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Film terbaru bergenre horor ‘EVA Pendakian Terakhir’ akan meramaikan bioskop XXI di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 16 Januari 2025 mendatang.

    Memadukan elemen horor, drama emosional, dan budaya film  ini digarap oleh Sutradara Dedy Mercy, dan dibintangi Bulan Sutena beserta Kiesha Alvaro.

    Film karya kolaborasi dari rumah produksi Citra Visual Sinema (CVS) dan Titah Entertainment yang mengusung kisah tentang pendakian gunung yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.

    Film Eva Pendakian Terakhir terinspirasi dari Kisah Nyata yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan. Mengisahkan tentang Pendakian Gunung, namun berubah menjadi tragedi.

    Eksekutif Produser Film Eva Pendakian Terakhir, Anwar Mattawape mengungkapkan bahwa film ini menggambarkan kumpulan kisah-kisah ‘unik’ yang pernah dialami oleh para pendaki maupun pegiat alam bebas.

    “Penonton akan mendapat kisah dari pengalaman para pendaki itu, dan saya sangat yakin anda juga akan menemukan kisah yang pernah anda alami di film ini,” ungkap Anwar Mattawape.

    Selain menawarkan pengalaman sinematik yang memikat, film ini juga bertujuan menyampaikan pesan tentang pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap budaya lokal.

    “Kami ingin kedepankan etik kultural. Hal-hal yang dianggap tabu sejatinya penting untuk menjaga ekosistem. Tujuannya agar kita tidak bertindak seenaknya,” kata Anwar Mattawape yang juga merupakan aktivis pendaki di Sulawesi Selatan ini.

    “Xontohnya orang haid dilarang mendaki. Ini penting sebab bau darah bisa mengundang binatang buas. Demikian pula kita tidak boleh kencing sembarangan. Selalu ada pesan penting dibalik semua larangan itu,” jelasnya.

    Pihaknya pun berharap, film ini tidak hanya menampilkan sisi hiburan, melainkan juga memberi pesan kepada masyarakat terkait pentinnya menjaga lingkunhan dan merawat budaya.

    “Kami berharap film ini tidak cuma kuat di sisi hiburan, tetapi juga menjadi pintu untuk membuka kesadaran tentang menjaga lingkungan, serta merawat budaya,” sambungnya.

    Dalam penayangan perdananya di Makassar, pihaknya juga akan menggelar Talkshow sekaligus Nonton Bareng (Nobar) yang rencananya akan dihadiri oleh para pendaki, aktivis lingkungan, influencer, dan penggiat media sosial.

    “Kami juga mengadakan talkshow untuk anak muda, karena hampir semua pemeran film ini adalah generasi muda,” pungkas Anwar Mattawape.