FOBIZ.ID, MAKASSAR — Kabut turun perlahan di lereng Gunung Bulusaraung, menutup punggung gunung, menyamarkan hutan, dan menghapus jarak pandang. Di saat itulah, sebuah pesawat ATR 42-500 berhenti menjawab panggilan. Tidak ada ledakan yang terdengar, tidak ada pesan darurat yang terekam. Hanya keheningan yang tiba-tiba terasa lebih panjang dari biasanya.
Di balik keheningan itu, terdapat sebelas nama yang tercantum dalam manifest awal penerbangan. Sebelas manusia dengan peran berbeda, dengan tujuan yang tampak biasa, dengan keyakinan bahwa penerbangan ini hanyalah satu dari sekian banyak perjalanan yang akan mereka lalui.
Tidak ada dari mereka yang tahu bahwa nama-nama itu akan menjadi bagian dari pencarian, doa, dan penantian panjang.
Pesawat turboprop tersebut tengah menjalankan misi resmi. Hingga kini, tim SAR masih mengacu pada manifest awal berjumlah 11 orang, meski perbedaan data sempat muncul di ruang publik. Di posko pencarian, angka-angka itu bukan sekadar data, melainkan wajah-wajah yang ditunggu kepulangannya.
Di Kokpit, Dua Nama Mengendalikan Arah
Di kursi kapten duduk Andy Dahananto. Di sisinya, Yudha Mahardika mendampingi sebagai kopilot. Di ruang sempit kokpit, keduanya memantau langit, instrumen, dan jalur pegunungan yang dikenal sulit ditaklukkan, terlebih ketika kabut turun tanpa peringatan.
Mereka adalah orang terakhir yang memegang kendali atas arah pesawat, membuat keputusan dalam hitungan detik, dengan pengalaman dan pelatihan sebagai sandaran utama.
Mereka yang Bekerja Tanpa Sorotan
Manifest juga mencatat nama Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, dan Junaidi. Mereka bukan figur yang dikenal publik, tetapi kehadiran mereka menentukan apakah sebuah penerbangan berjalan sebagaimana mestinya.
Di balik prosedur, cek teknis, dan koordinasi operasional, merekalah orang-orang yang bekerja dalam sunyi, memastikan pesawat layak terbang dan setiap sistem berjalan sesuai standar.
Di kabin, Florencia Lolita dan Esther Aprilita S. menjalankan peran yang kerap dianggap sepele: menyapa penumpang, memastikan sabuk pengaman terpasang, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang tak pernah diharapkan.
Tiga Penumpang, Satu Tugas Negara
Selain kru, terdapat tiga penumpang dalam pesawat itu. Deden Mulyana, Ferry Irawan, dan Yoga Naufal, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, tengah menjalankan tugas kedinasan.
Bagi mereka, penerbangan ini adalah bagian dari rutinitas kerja—menuju lokasi tugas, kembali ke keluarga, melanjutkan hari-hari biasa. Tidak ada yang luar biasa dari jadwal itu, hingga kabut Bulusaraung mengubah segalanya.
Antara Angka dan Penantian
Perbedaan jumlah orang di dalam pesawat sempat memicu kebingungan. Ada yang menyebut sepuluh, ada yang mengacu pada sebelas. Namun bagi keluarga yang menunggu kabar, perbedaan itu tidak mengubah apa pun.
Satu nama saja sudah cukup untuk membuat waktu berhenti berjalan.
Gunung, Kabut, dan Pencarian yang Sunyi
Hingga Minggu (19/1/2026), tim SAR gabungan masih menyisir lereng Bulusaraung. Mereka berjalan kaki menembus hutan, menatap jurang, dan bergulat dengan kabut yang datang dan pergi tanpa aba-aba.
Setiap laporan temuan diverifikasi, setiap potongan informasi diperiksa ulang. Di medan seperti ini, kesalahan kecil bisa berakibat fatal—bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi para pencari.
Di gunung itu, yang dicari bukan sekadar puing pesawat. Yang dicari adalah kepastian. Tentang apa yang terjadi. Tentang bagaimana sebuah perjalanan berakhir. Tentang sebelas nama yang kini hidup dalam doa, harapan, dan kesunyian yang belum terjawab.
Dan selama kabut masih turun di Bulusaraung, kisah mereka belum benar-benar selesai.
