FOBIZ.ID, BULUKUMBA – Universitas Hasanuddin melatih siswa SMP Negeri 17 Bulukumba menjadi konselor sebaya untuk memperkuat edukasi kesehatan reproduksi dan mencegah infeksi menular seksual serta HIV/AIDS.
Program bertajuk “Sekolah Siaga Reproduksi Sehat: Penguatan Konselor Remaja dalam Edukasi dan Pendampingan Sebaya sebagai Strategi Pencegahan Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS” itu digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Keperawatan Unhas pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Program tersebut dipimpin Dr. Erfina, S.Kep., Ns., M.Kep. Menurut Erfina, remaja membutuhkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat agar mampu memahami perubahan yang terjadi pada dirinya, mengenali perilaku berisiko, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Konselor sebaya menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah. Remaja sering kali merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan teman sebayanya,” kata Erfina.
Para siswa tidak hanya mendapat materi mengenai kesehatan reproduksi. Mereka juga dilatih berkomunikasi dan melakukan konseling dasar kepada teman sebaya.
Materi awal mencakup perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, kesehatan organ reproduksi, serta perilaku hidup sehat. Peserta kemudian mendapat penjelasan mengenai infeksi menular seksual dan HIV/AIDS, mulai dari karakteristik penyakit, cara penularan, hingga pencegahannya.
Edukasi juga diarahkan untuk meluruskan pemahaman yang keliru dan mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS.
Setelah pemberian materi, siswa mengikuti pelatihan komunikasi efektif dan konseling sebaya. Mereka belajar mendengarkan secara aktif, berkomunikasi secara empatik, serta memberikan dukungan sesuai kapasitas sebagai teman sebaya.
Pelatihan dilakukan melalui diskusi, permainan edukatif, dan simulasi. Dalam sesi role play, siswa mempraktikkan cara menghadapi situasi yang mungkin ditemui ketika menjadi tempat bercerita bagi teman mereka.
Kepala SMP Negeri 17 Bulukumba, Dr. Kasmawati Zainuddin, S.Pd., M.Pd., menyambut baik program tersebut. Dia berharap siswa yang mengikuti pelatihan dapat menjadi tempat berdiskusi yang positif bagi teman-temannya sekaligus menyampaikan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi.
Menurut Kasmawati, keberadaan konselor sebaya dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap kesehatan remaja.
Tim Pengabdian FKep Unhas berharap program tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Para siswa yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan diharapkan dapat menjadi penghubung awal bagi teman sebaya yang membutuhkan informasi atau dukungan.
Mereka juga diarahkan untuk mendorong teman yang menghadapi persoalan di luar kapasitas konselor sebaya agar mencari bantuan kepada guru, tenaga kesehatan, atau pihak yang berkompeten.
Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi kesehatan remaja. Kegiatan tersebut juga mendukung SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDGs 4 mengenai pendidikan bermutu melalui peningkatan pengetahuan kesehatan, keterampilan komunikasi, dan pemberdayaan siswa.





