Tag: Bank Indonesia

  • BI Sulsel Dorong 3 Proyek Investasi Unggulan Lewat SSIC 2026

    BI Sulsel Dorong 3 Proyek Investasi Unggulan Lewat SSIC 2026

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menetapkan tiga proyek investasi terbaik dalam Final South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026.

     

    Proyek Industri Minyak Ikan dari Kabupaten Sinjai keluar sebagai IPRO Terbaik I. Posisi kedua diraih Industri Pengolahan Udang Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular dari Kabupaten Barru, sedangkan Industri Pakan Ternak dari Kabupaten Jeneponto menjadi Terbaik III.

     

    Final SSIC 2026 digelar di Ruang Baruga Phinisi, Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis (27/8/2026). Kegiatan mengusung tema “Transformasi Ekonomi Sulawesi Selatan melalui Hilirisasi dan Penguatan Investasi Berkelanjutan”.

     

    Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Firman Hidayat, mengatakan SSIC tidak berhenti pada penetapan pemenang. Proyek yang terpilih akan didorong agar benar-benar mampu menarik minat investor.

     

    “Penghargaan yang diberikan pada hari ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal menuju tahapan yang lebih menentukan, yaitu mempertemukan proyek dengan investor, memperoleh komitmen, dan mewujudkannya menjadi investasi,” kata Firman.

     

    Menurutnya, realisasi investasi tersebut diharapkan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian daerah, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

     

    SSIC merupakan program tahunan Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang telah digelar sejak 2021.

     

    Pada SSIC 2026, sebanyak 22 usulan Investment Project Ready to Offer (IPRO) dari 21 kabupaten/kota berhasil lolos seleksi Executive Summary proyek Clean and Clear (CnC).

     

    Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang menghasilkan 18 usulan IPRO dari 16 kabupaten/kota.

     

    Setelah melalui verifikasi lapangan dan pendampingan teknis penyusunan IPRO bersama PT SMI, lima proyek kemudian masuk tahap final.

     

    Kelima proyek itu yakni Industri Pakan Ternak dari Jeneponto, Industri Tepung Beras dari Sidrap, Industri Minyak Ikan Andalan dari Sinjai, Perkebunan Kopi Arabika Specialty Terintegrasi dari Toraja Utara, serta Industri Pengolahan Udang Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular dari Barru.

     

    Lima finalis mempresentasikan proyek masing-masing di hadapan Dewan Juri yang terdiri dari Prof Marsuki, DEA, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin; Kepala Dinas PMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan Asrul Sani; serta Team Leader Divisi Pengembangan Proyek PT SMI Tata Sumirat.

     

    Firman mengatakan proyek-proyek yang dihasilkan melalui SSIC selanjutnya masih akan diperkuat agar semakin siap ditawarkan kepada investor.

     

    “Ke depan, proyek investasi unggulan Sulawesi Selatan perlu diarahkan untuk memperkuat basis industri daerah, mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok, memperluas pasar ekspor, serta menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru,” jelasnya.

     

    Penguatan proyek akan mencakup kesiapan lahan, legalitas dan perizinan, infrastruktur pendukung, skema bisnis dan pembiayaan, kepastian off-taker, hingga kelayakan finansial.

     

    BI bersama Pemprov Sulsel melalui PINISI SULTAN juga akan melakukan market sounding, business matching dan forum promosi investasi untuk mempertemukan proyek dengan calon investor dan mitra strategis.

     

    Salah satu agenda yang disiapkan adalah Sulampua Investment Forum (SIF) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 di Makassar.

     

    Firman berharap rangkaian tersebut dapat mempercepat realisasi proyek investasi sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan tujuan investasi di kawasan timur Indonesia.

  • KKI 2026 Catat Transaksi Rp144,2 Miliar, UMKM Indonesia Makin Siap Tembus Pasar Global

    KKI 2026 Catat Transaksi Rp144,2 Miliar, UMKM Indonesia Makin Siap Tembus Pasar Global

    FOBIZ.ID JAKARTA – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 resmi ditutup dengan mencatatkan sejumlah capaian positif. Hingga 22 Agustus 2026, penjualan sementara KKI 2026 mencapai Rp144,2 miliar atau meningkat 46 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

    Tak hanya transaksi penjualan, Business Matching (BM) ekspor juga mencatat nilai yang signifikan. Total BM ekspor mencapai Rp169,9 miliar dengan melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara.

    Sementara itu, BM pembiayaan mencapai Rp285 miliar. Angka tersebut meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata capaian dalam tiga tahun terakhir.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan KKI bukan sekadar ajang promosi produk UMKM, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang mampu menjaga keberlanjutan pertumbuhan UMKM Indonesia.

    “Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Tapi, UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” ujar Aida dalam Seremoni Penutupan KKI 2026 di JICC Jakarta, Minggu (23/8/2026).

    KKI 2026 melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari berbagai daerah di Indonesia. Hampir 560 UMKM mengikuti pameran secara luring dengan menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, hingga karya kreatif generasi muda.

    Penguatan ekosistem UMKM juga dilakukan melalui kolaborasi dengan 27 kementerian/lembaga serta 34 asosiasi, mitra, industri, perbankan, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

    Selain itu, pengembangan dan perluasan akses pasar UMKM didukung jaringan 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri dan 5 Kantor Perwakilan Luar Negeri Bank Indonesia.

    Sejumlah program pengembangan talenta juga menjadi bagian dari KKI 2026, di antaranya Cangkir Barista yang mendorong peningkatan kompetensi, sertifikasi nasional, dan pendampingan usaha bagi barista.

    Ada pula Citra Nusa yang diarahkan untuk memperkuat daya saing UMKM wastra melalui peningkatan kapasitas, inovasi desain, dan pengembangan produk berorientasi ekspor.

    Tahun ini, Cangkir Barista menghasilkan 6 juara terbaik dan 4 juara terfavorit. Sementara Citra Nusa menghasilkan 5 juara terbaik dan 3 juara terfavorit.

    UMKM Sulsel Cetak Transaksi Rp1,028 Miliar

    Partisipasi UMKM Sulawesi Selatan turut memberikan kontribusi dalam KKI 2026.

    Sebanyak tiga UMKM wastra Sulsel, yakni Losari Silk dan Arni Kurnia Silk dari Wajo serta Pio Etnik dari Toraja Utara, ambil bagian dalam pameran luring.

    Sementara itu, 21 UMKM Sulsel lainnya berpartisipasi dalam KKI Online dengan membawa berbagai produk, mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman olahan, kopi, hingga kriya.

    Dari rangkaian kegiatan tersebut, transaksi penjualan UMKM Sulsel mencapai Rp1,028 miliar. Nilai tersebut terdiri dari Rp215 juta transaksi melalui pameran luring dan Rp813 juta melalui pameran online.

    Tak berhenti pada transaksi penjualan, UMKM Sulsel juga mendapat kesempatan memperluas pasar melalui BM ekspor.

    Sebanyak 7 UMKM binaan KPwBI Sulawesi Selatan mengikuti 15 sesi BM ekspor dengan 10 buyer atau aggregator. Dari proses tersebut, tercatat 6 Letter of Intent (LoI) dengan potensi transaksi ekspor mencapai Rp380,75 juta.

    Sejumlah kesepakatan di antaranya berasal dari produk kopi Sulawesi Selatan dengan mitra dari Kanada, Singapura, dan Amerika Serikat. Produk lainnya juga mendapatkan peluang pasar dari mitra di Singapura.

    Capaian tersebut menunjukkan KKI 2026 tidak hanya menjadi etalase produk UMKM, tetapi juga membuka akses lebih luas terhadap pasar, pembiayaan, jejaring bisnis, hingga peluang ekspor.

    Ke depan, berbagai peluang yang diperoleh selama KKI 2026 akan ditindaklanjuti melalui program pengembangan UMKM di daerah. Bank Indonesia mendorong semakin banyak UMKM Sulawesi Selatan naik kelas, memperluas pasar nasional, dan mampu menembus pasar global.

  • KKI 2026 Jadi Ajang UMKM Sulsel Raup Potensi Ekspor Rp380,75 Juta

    KKI 2026 Jadi Ajang UMKM Sulsel Raup Potensi Ekspor Rp380,75 Juta

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi momentum emas bagi pelaku UMKM Sulawesi Selatan untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Melalui business matching ekspor, tujuh UMKM Sulsel berhasil menyepakati Letter of Intent (LOI) dengan sejumlah buyer luar negeri dengan potensi transaksi mencapai lebih dari Rp380,75 juta.

    Business matching ekspor tersebut berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 dalam rangkaian KKI 2026 yang digelar 20–23 Agustus dengan mengusung tema “Beudaya Meusare Sare” atau “Berdaya Bersama-sama”.

    Tiga UMKM dengan nilai LOI terbesar berasal dari sektor kopi. Kopi Luwak Malino dari Gowa mencatat nilai transaksi Rp245 juta dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada untuk produk kopi Arabica Malino.

    Selanjutnya, CV Panrita Jaya Group dari Makassar menyepakati LOI senilai Rp92,25 juta dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura untuk kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang.

    Kopi Luwak Malino kembali mencatat LOI senilai Rp32 juta dengan buyer yang sama dari Singapura.

    Selain ketiga UMKM tersebut, sejumlah produk Sulsel juga tengah memasuki tahap market test dan pengiriman sampel ke pasar internasional.

    My Coffeeza Indonesia dari Enrekang menjajaki pasar China melalui Indonesia Specialty Coffee (ISC) dan Indonesia Trading House Guangzhou (ITHG). Kopivolusi Niwa Indonesia dari Makassar melakukan penjajakan dengan Dua DC Coffee dari Amerika Serikat.

    Sementara itu, PT Bunly Abadi Bersama dari Makassar membawa produk kacang mete untuk pasar Singapura dan Amerika Serikat melalui Toko Indo dan Etoobai.

    Bank Indonesia Sulawesi Selatan turut memfasilitasi 14 sesi business matching ekspor secara offline dan satu sesi secara online dalam KKI 2026.

    Adapun tujuh UMKM Sulsel yang terlibat dalam business matching tersebut yakni Kopi Luwak Malino, CV Panrita Jaya Group, Kopivolusi Niwa Indonesia, Sehati Kopi, My Coffeeza Indonesia, PT Bunly Abadi Bersama, serta CV Al Razak Corp dari Enrekang yang mengikuti sesi secara online.

    Penguatan akses ekspor ini menjadi bagian dari upaya BI Sulsel mengembangkan UMKM dari hulu hingga hilir melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas produk, hingga perluasan akses pasar.

    Sebelumnya, Bank Indonesia juga mencatat fasilitasi business matching pembiayaan UMKM secara nasional hingga Juli 2026 telah mencapai Rp285 miliar. Angka tersebut terdiri dari pembiayaan inklusif Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan Rp135 miliar.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan BI berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand.

    “Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” ujar Aida.

    Menurutnya, penguatan ekosistem UMKM membutuhkan kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah, sektor keuangan dan berbagai pemangku kepentingan.

    Melalui KKI 2026, BI Sulsel mendorong produk lokal tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga menembus pasar global sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif dan berkelanjutan.

  • Sultan QRIS Run 2026: Tujuh Tahun QRIS, Transaksi Digital Makin Meluas

    Sultan QRIS Run 2026: Tujuh Tahun QRIS, Transaksi Digital Makin Meluas

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Tujuh tahun perjalanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dirayakan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan melalui Sultan QRIS Run 2026, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Seven Colors, Seven Journey, One QRIS” ini digelar bersama OJK Sulselbar, LPS III Makassar, dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Sulawesi Selatan, sekaligus dirangkaikan dengan penutupan PORSEBANK Sulsel 2026.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan tujuh tahun QRIS bukan sekadar perjalanan teknologi pembayaran, tetapi juga mencerminkan perubahan perilaku masyarakat menuju ekonomi dan keuangan digital yang semakin inklusif. “Ketika kita berbicara mengenai tujuh tahun QRIS, yang kita rayakan bukan hanya perjalanan sebuah sistem pembayaran. Yang kita rayakan adalah perjalanan jutaan masyarakat dan pelaku usaha Indonesia dalam beradaptasi, bertumbuh, dan mengambil bagian dalam transformasi digital,” kata Rizki.

    Sejak diluncurkan pada 17 Agustus 2019, QRIS terus berkembang dari sistem pembayaran berbasis kode statis menjadi ekosistem dengan berbagai metode transaksi. Dalam Sultan QRIS Run 2026, peserta menempuh rute 10 kilometer dan melewati tujuh QRIS Station yang memperkenalkan perjalanan inovasi QRIS, mulai dari MPM Statis, MPM Dinamis, Customer Presented Mode, QRIS Transport, TUNTAS, QRIS Cross Border, hingga inovasi terbaru QRIS TAP.

    Secara nasional, hingga 30 Juni 2026, QRIS telah menjangkau sekitar 63,3 juta pengguna dan 46 juta merchant, yang sebagian besar merupakan UMKM. QRIS juga telah memfasilitasi sekitar 37 miliar transaksi sejak implementasinya. Di Sulawesi Selatan, jumlah pengguna QRIS mencapai sekitar 1,48 juta, sedangkan merchant mencapai 1,46 juta.

    “Perkembangan tersebut juga terlihat nyata di Sulawesi Selatan. Per 30 Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Selatan telah mencapai 1,48 juta pengguna dan 1,46 juta QRIS merchant,” ujar Rizki. Menurutnya, QRIS kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, digunakan mulai dari pedagang pasar, warung kopi, UMKM, pusat perbelanjaan, transportasi, destinasi wisata hingga berbagai layanan lainnya.

    Memasuki tahun kedelapan, BI tidak ingin QRIS hanya dikenal, tetapi juga semakin sering digunakan dan memberikan manfaat yang lebih luas. “Tantangan kita bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal QRIS, tetapi bagaimana mendorong QRIS untuk semakin sering digunakan, semakin luas manfaatnya, dan semakin aman transaksinya,” kata Rizki. Ia menegaskan, perluasan penggunaan QRIS harus dibarengi peningkatan literasi digital masyarakat.

    Aspek keamanan menjadi perhatian penting di tengah semakin luasnya transaksi digital. Rizki mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menjaga data pribadi saat menggunakan layanan pembayaran digital. “Kemudahan bertransaksi harus senantiasa disertai dengan kewaspadaan dalam menjaga keamanan data pribadi, terutama PIN, OTP, maupun informasi penting lainnya,” ujarnya.

    Sultan QRIS Run 2026 juga menjadi bagian dari penguatan sinergi industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penutupan PORSEBANK Sulsel 2026 yang telah berlangsung sejak 2 Agustus dengan berbagai cabang olahraga dan seni. Sekitar 4.000 peserta ikut ambil bagian dalam rangkaian run dan funwalk, yang diharapkan tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga mempererat silaturahmi antarpelaku industri keuangan.

    “Perjalanan QRIS tidak mungkin dilakukan oleh Bank Indonesia sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, industri perbankan dan sistem pembayaran, pelaku usaha, komunitas, media, serta seluruh masyarakat,” kata Rizki. Ia menilai tujuh tahun QRIS harus menjadi pijakan untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital yang inklusif, aman, dan bermanfaat bagi perekonomian Sulawesi Selatan.

  • Tujuh Tahun QRIS, BI Sulsel: 1,5 Juta Pengguna, Merchant Terus Bertambah

    Tujuh Tahun QRIS, BI Sulsel: 1,5 Juta Pengguna, Merchant Terus Bertambah

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Tujuh tahun setelah diluncurkan pada 17 Agustus 2019, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Sulawesi Selatan terus meluas.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menyebut jumlah pengguna QRIS di Sulsel kini telah mencapai sekitar 1,5 juta. Angka serupa juga tercatat pada jumlah merchant yang telah menggunakan sistem pembayaran digital tersebut.

    “Peningkatannya luar biasa. Sekarang di Sulawesi Selatan saja sudah 1,5 juta pengguna dan merchant juga 1,5 juta,” ujar Rizki saat menghadiri kegiatan Sultan QRIS Run 2026, Sabtu (22/8/2026).

    Kegiatan tersebut digelar dalam rangka mendukung perluasan akseptasi dan penggunaan QRIS. Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam penyelenggaraan Sultan QRIS Run 2026.

    Kegiatan berlangsung di Lapangan Parkir KPw BI Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman No. 3 Makassar, mulai pukul 05.15 hingga 12.00 WITA.

    Rizki mengatakan pertumbuhan penggunaan QRIS menunjukkan sistem pembayaran digital tersebut semakin diterima masyarakat dan pelaku usaha.

    Selama tujuh tahun, QRIS juga terus dikembangkan dengan menghadirkan berbagai fitur, mulai dari QRIS statis hingga QRIS Tap.

    “Semakin banyak kita menggunakan QRIS, manfaatnya juga banyak,” katanya.

    Meski penggunaan QRIS terus meningkat, Rizki mengakui masih terdapat pelaku usaha yang belum menggunakannya. Menurut dia, kondisi tersebut salah satunya disebabkan masih kurangnya pemahaman mengenai manfaat pembayaran digital.

    “Harus diedukasi. Mereka belum tahu manfaatnya saja. Jadi memang tugas kita untuk mengedukasi mereka,” ujarnya.

    Dalam momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI, BI juga memberikan stimulus melalui kebijakan tarif Merchant Discount Rate (MDR) QRIS.

    Rizki mengatakan transaksi QRIS untuk kategori UMKM dengan nominal tertentu mendapatkan tarif MDR sebesar 0 persen.

    “Sekarang kita gratis sekali. Tidak ada MDR, Merchant Discount Rate-nya sekarang 0 persen,” kata Rizki.

    Sementara itu, untuk transaksi non-UMKM, terdapat ketentuan tarif MDR yang berbeda sesuai kategori dan nominal transaksi.

    Rizki mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk terus memanfaatkan QRIS seiring dengan berkembangnya ekosistem pembayaran digital.

    Menurutnya, semakin luas penggunaan QRIS, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan masyarakat maupun pelaku usaha.

    “Sudah punya QRIS semua kan?” ujar Rizki.

  • BI Musnahkan 4.144 Lembar Rupiah Palsu di Makassar

    BI Musnahkan 4.144 Lembar Rupiah Palsu di Makassar

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Sebanyak 4.144 lembar uang Rupiah palsu dimusnahkan di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 11 Agustus 2026. Uang palsu itu merupakan hasil temuan dari laporan masyarakat dan perbankan selama Januari 2025 hingga Mei 2026.

     

    Pemusnahan dilakukan Bank Indonesia bersama Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (BOTASUPAL) Sulawesi Selatan setelah barang temuan tersebut mendapat penetapan pemusnahan dari Ketua Pengadilan Negeri Makassar.

     

    Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Bayu Martanto mengatakan pemusnahan itu memastikan uang palsu yang telah ditemukan tidak kembali beredar. Menurut dia, persoalan uang palsu bukan semata soal kerugian dari lembar uang yang dipalsukan, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap mata uang negara.

     

    “Menjaga Rupiah pada hakikatnya adalah menjaga kepercayaan masyarakat,” kata Bayu dalam kegiatan pemusnahan tersebut di Baruga Pinisi, Lt. 4 KPw BI Sulsel, Jl. Jend. Sudirman, Selasa (11/8/2026).

     

    Menurut Bayu, Rupiah bukan hanya alat pembayaran. Mata uang itu juga merupakan simbol kedaulatan negara. Karena itu, pemberantasan uang palsu membutuhkan kerja bersama antara Bank Indonesia, aparat penegak hukum, perbankan dan masyarakat.

     

    Bank Indonesia menjalankan upaya pemberantasan Rupiah palsu melalui tiga jalur. Jalur pertama adalah preemtif, yakni mencegah masyarakat menjadi korban melalui edukasi mengenai ciri keaslian Rupiah.

     

    Edukasi dilakukan melalui program Cinta, Bangga, Paham Rupiah atau CBP Rupiah. Di Sulawesi Selatan, program tersebut menyasar institusi pendidikan dan guru melalui training of trainer. Bank Indonesia juga membentuk Duta Muda dan Guru CBP Rupiah 2026 serta Forum Kas Perbankan (FKP) Sultan.

     

    Jalur kedua bersifat preventif. Bank Indonesia memperkuat unsur pengaman atau security features pada uang Rupiah dan mengembangkan desain yang semakin sulit dipalsukan.

     

    Adapun jalur ketiga adalah penindakan. Bank Indonesia bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam proses penyidikan, termasuk memeriksa uang yang diragukan keasliannya, memberikan keterangan ahli, serta bertukar data dan informasi mengenai temuan uang palsu.

     

    Kewenangan Bank Indonesia tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Bank Indonesia berwenang merencanakan, mencetak, mengeluarkan, mengedarkan, mencabut dan menarik, serta memusnahkan Rupiah dan menentukan keasliannya.

     

    Masyarakat diminta tidak langsung mengedarkan kembali uang yang diragukan keasliannya. Bank Indonesia mengingatkan masyarakat untuk mengenali Rupiah melalui metode 3D: Dilihat, Diraba, dan Diterawang.

     

    Jika menemukan uang yang diduga palsu, masyarakat dapat melaporkannya kepada pihak berwenang.

     

    Pemusnahan itu dihadiri unsur BOTASUPAL, Pengadilan Negeri Makassar, pimpinan perbankan di Sulawesi Selatan, dan sejumlah undangan lainnya. Bank Indonesia menyatakan sinergi pemberantasan uang palsu akan terus diperkuat untuk menjaga Rupiah tetap dipercaya masyarakat.

  • KKS x DIGIFEST 2026 Ditutup, UMKM Raup Transaksi Rp1,35 Miliar

    KKS x DIGIFEST 2026 Ditutup, UMKM Raup Transaksi Rp1,35 Miliar

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Rangkaian Karya Kreatif Sulawesi Selatan (KKS) dan South Sulawesi Digital Festival (DIGIFEST) Presents Wastra Heritage Market (WHM) 2026 resmi ditutup di Mall Ratu Indah, Makassar, Minggu (2/8/2026). Selama penyelenggaraan, kegiatan tersebut berhasil mencatat komitmen pembiayaan UMKM senilai Rp18,27 miliar dan nilai transaksi lebih dari Rp1,35 miliar.

    Penutupan dilakukan oleh Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi Kerakyatan, Dr. Since Erna Lamba, bersama Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Bayu Martanto.

    Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Bayu Martanto, mengatakan capaian tersebut menunjukkan sinergi berbagai pihak dalam memperkuat UMKM dan mempercepat digitalisasi ekonomi di Sulawesi Selatan.

    “KKS x DIGIFEST 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku UMKM, dan masyarakat mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kami akan terus memperkuat sinergi untuk meningkatkan daya saing UMKM dan memperluas pemanfaatan digitalisasi di Sulawesi Selatan,” kata Bayu Martanto.

    Selama pelaksanaan acara, sekitar 100 UMKM dari sektor wastra, fesyen, kriya, dan kuliner berpartisipasi dengan jumlah pengunjung mencapai lebih dari 8.000 orang. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari pameran, fashion show, workshop, talkshow, business matching, hingga kompetisi berbasis QRIS.

    Dari sisi pembiayaan, business matching bersama perbankan menghasilkan komitmen pembiayaan sebesar Rp18,27 miliar, yang terdiri atas Rp12,18 miliar dari Bank Mandiri dan Rp6,09 miliar dari Bank Sulselbar.

    Sementara itu, total transaksi penjualan selama kegiatan tercatat menembus lebih dari Rp1,35 miliar hingga Minggu siang, dengan lebih dari 10.000 transaksi dilakukan secara non-tunai menggunakan QRIS.

    Selain mendorong transaksi digital, KKS x DIGIFEST 2026 juga menghadirkan program wakaf produktif berbasis QRIS bekerja sama dengan Dompet Dhuafa. Program tersebut berhasil menghimpun dana Rp29 juta untuk pemberdayaan ibu rumah tangga melalui pengembangan pekarangan pangan terpadu.

    Di sisi lain, kanal donasi digital melalui QRIS pada booth edukasi Bank Indonesia dan sistem voting peserta lomba juga berhasil mengumpulkan dana belasan juta rupiah dari sekitar 5.100 transaksi yang akan disalurkan untuk kegiatan sosial.

    Bank Indonesia Sulawesi Selatan menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, komunitas kreatif, serta pelaku UMKM guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan inklusif.

  • Bank Indonesia Sulsel Antar UMKM OSP Farm Tembus Pasar Arab Saudi

    Bank Indonesia Sulsel Antar UMKM OSP Farm Tembus Pasar Arab Saudi

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Upaya mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas hingga mampu bersaing di pasar internasional kembali membuahkan hasil. PT Onstar Pop Farm (OSP Farm), UMKM asal Kabupaten Luwu yang bergerak di sektor komoditas kemiri, kembali mengekspor 10,2 ton kemiri ke Jeddah, Arab Saudi.

    Pelepasan ekspor yang berlangsung pada Kamis (23/7/2026) tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda, serta sejumlah pemangku kepentingan.

    Ekspor kali ini melanjutkan pengiriman perdana sebanyak 10 ton yang dilakukan pada awal tahun 2026. Dengan demikian, total ekspor OSP Farm telah mencapai sekitar 20 ton atau seperempat dari komitmen ekspor sebesar 80 ton dalam kurun waktu dua tahun.

    Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa komoditas unggulan Sulawesi Selatan memiliki daya saing di pasar internasional sekaligus memberikan dampak positif bagi petani lokal melalui meningkatnya permintaan bahan baku kemiri.

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan keberhasilan OSP Farm merupakan hasil nyata dari pembinaan berkelanjutan yang dilakukan melalui program UMKM REWAKO Ekspor.

    “Keberhasilan OSP Farm menunjukkan bahwa UMKM Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global apabila didukung dengan pembinaan yang tepat, peningkatan kapasitas usaha, serta akses pasar yang lebih luas. Bank Indonesia akan terus hadir menjadi mitra strategis dalam memperkuat daya saing UMKM agar mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah,” ujar Rizki.

    OSP Farm merupakan salah satu peserta program UMKM REWAKO Ekspor yang digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Melalui program tersebut, perusahaan memperoleh pendampingan intensif mulai dari penguatan kapasitas usaha, business matching, hingga fasilitasi mengikuti pameran internasional Trade Expo Indonesia (TEI) dan Anging Mamiri Business Fair (AMBF).

    Rangkaian pendampingan tersebut berhasil mempertemukan OSP Farm dengan pembeli dari luar negeri hingga menghasilkan kontrak ekspor yang kini direalisasikan secara bertahap.

    Menurut Rizki, capaian tersebut membuktikan bahwa kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan mampu membuka peluang baru bagi UMKM untuk memasuki rantai perdagangan global.

    “Ekspor bukan hanya tentang menjual produk ke luar negeri, tetapi juga tentang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika UMKM berkembang, permintaan terhadap hasil pertanian lokal ikut meningkat, lapangan kerja bertambah, dan ekonomi daerah menjadi lebih kuat serta berkelanjutan,” katanya.

    Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder dalam mengembangkan UMKM melalui program UMKM REWAKO (Resilient, World Class, Agile, and Knowledgeable) maupun berbagai program pengembangan lainnya.

    Melalui peningkatan kapasitas usaha, inovasi produk, serta perluasan akses pasar domestik dan internasional, Bank Indonesia berharap semakin banyak UMKM Sulawesi Selatan yang mampu menembus pasar ekspor dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

  • Saat Dolar Naik, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

    Saat Dolar Naik, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

     

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Penguatan dolar Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global kerap memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, Deputi Direktur Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Aswin Gantina, mengingatkan agar masyarakat tidak panik dan tetap fokus pada pengelolaan keuangan yang sehat.

    Menurut Aswin, ada tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat saat menghadapi tekanan ekonomi. Pertama, berupaya mencari tambahan sumber pendapatan untuk menjaga daya beli. Kedua, mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting dan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok.

    “Ketika kondisi ekonomi menantang, pengelolaan keuangan rumah tangga menjadi semakin penting. Masyarakat perlu lebih bijak mengatur pengeluaran dan memanfaatkan peluang untuk menambah pendapatan,,” kta Aswin, Rabu, (10/6/2026).

    Deputi Direktur Bank Indonesia Sulsel, Aswin Gantina.

    Langkah ketiga, kata dia, adalah menggunakan pinjaman secara bijak dan hanya untuk kegiatan produktif yang dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi, seperti usaha atau pengembangan bisnis.

    Aswin menilai gejolak ekonomi global tidak selalu berdampak langsung kepada seluruh masyarakat. Karena itu, informasi mengenai kenaikan dolar maupun kondisi ekonomi perlu disikapi secara rasional.

    “Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mampu beradaptasi, menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, serta mengambil keputusan keuangan secara bijak,” ujarnya.

    Terakhir Aswin menambahkan untuk cintai dan gunakan produk lokal (UMKM) agar ekonomi masyarakat juga terus bergerak.

  • Ekonomi Syariah Tak Sekadar Isu Perbankan, BI Sulsel Dorong Konten yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

    Ekonomi Syariah Tak Sekadar Isu Perbankan, BI Sulsel Dorong Konten yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

     

     

    FOBIZ.ID, MAKASSAR – Deputi Direktur Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Aswin Gantina, menilai ekonomi dan keuangan syariah masih sering dipersepsikan sebagai isu yang terbatas pada perbankan atau lembaga keuangan. Padahal, menurut dia, konsep ekonomi syariah memiliki keterkaitan langsung dengan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

     

    Hal tersebut disampaikan Aswin saat memberikan materi dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Konten Ekonomi dan Keuangan Syariah Sulawesi Selatan 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2026, Rabu (10/6/2026) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel.

     

    “Aspek ekonomi dan keuangan syariah sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Banyak fenomena ekonomi yang terjadi di sekitar kita yang dapat dijelaskan dengan perspektif ekonomi syariah dan menjadi bahan edukasi yang menarik,” kata Aswin.

     

    Ia mencontohkan, ketika terjadi gejolak ekonomi global atau perubahan suku bunga acuan, masyarakat sering kali merasakan dampaknya melalui kenaikan biaya pinjaman atau cicilan kredit. Namun, dalam sejumlah produk pembiayaan syariah, nilai cicilan telah disepakati sejak awal melalui akad tertentu sehingga tidak mengalami perubahan selama masa pembiayaan.

     

    “Ini menjadi salah satu contoh yang mudah dipahami masyarakat. Ketika suku bunga bergerak naik atau turun, ada produk pembiayaan syariah yang tidak terpengaruh karena nilai kewajibannya telah ditetapkan berdasarkan akad yang disepakati di awal,” ujarnya.

     

    Menurut Aswin, fenomena seperti itu menunjukkan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar konsep teoritis, melainkan memiliki implikasi nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ia mendorong para konten kreator dan insan media untuk mengangkat isu-isu ekonomi syariah melalui pendekatan yang lebih kontekstual.

     

    Ia menilai tantangan literasi ekonomi syariah saat ini bukan hanya soal keterbatasan informasi, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disampaikan agar relevan dengan kebutuhan publik.

     

    “Kita sering kali berbicara ekonomi syariah dengan bahasa yang terlalu teknis. Padahal masyarakat akan lebih mudah memahami jika dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, seperti pembiayaan rumah, konsumsi produk halal, atau aktivitas usaha yang mereka jalankan,” kata Aswin.

     

    Bank Indonesia, kata dia, melihat peran konten digital semakin penting dalam membangun pemahaman masyarakat. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi yang semakin bergeser ke media digital, edukasi ekonomi syariah dituntut hadir dengan bahasa yang sederhana, dekat, dan mudah dipahami.

     

    Karena itu, BI Sulsel mendorong lahirnya lebih banyak konten edukatif yang tidak hanya menjelaskan konsep ekonomi syariah, tetapi juga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

     

    “Kalau ekonomi syariah ingin semakin diterima masyarakat, maka narasinya harus hadir dalam konteks yang mereka temui setiap hari. Di situlah peran media dan konten kreator menjadi sangat penting,” ujar Aswin.