Medan Karst yang Ekstrem
Gunung Bulusaraung memiliki lereng curam, lembah sempit, dan tebing kapur yang menjadi tantangan utama bagi tim SAR. Kontur pegunungan ini tidak hanya menyulitkan pergerakan darat, tetapi juga memengaruhi stabilitas helikopter saat evakuasi udara.
Pada hari pertama operasi, tim SAR gabungan juga menemukan bagian besar mesin pesawat ATR 42-500 crash di kawasan Gunung Bulusaraung, ketika cuaca dan medan sudah menjadi kendala sejak awal pencarian.
(sumber)
Arus Angin dan Faktor Cuaca
Perbedaan arus angin naik-turun di Bulusaraung membuat penerbangan rendah berisiko tinggi. Kabut tebal dan hujan lebat menurunkan jarak pandang hanya 5–10 meter, sehingga operasi udara harus dibatalkan atau ditunda.
(sumber)
Keterbatasan Area Pendaratan
Tidak semua lereng gunung memiliki area datar untuk pendaratan helikopter. Tim SAR harus memilih titik evakuasi terbatas, yang membuat proses pencarian korban menjadi lambat dan selektif.
Fokus Evakuasi Darat
Mengingat risiko tinggi evakuasi udara, tim SAR lebih banyak mengandalkan jalur darat. Meski lebih memakan waktu, jalur ini lebih aman bagi personel. Penggunaan tali statis dan peralatan penurunan vertikal menjadi bagian penting dari operasi.
Pelajaran dari Gunung Bulusaraung
Peristiwa ini mengingatkan bahwa medan ekstrem menentukan ritme pencarian dan evakuasi. Keamanan personel tetap menjadi prioritas utama, meskipun hal ini memperlambat proses pencarian korban pesawat ATR 42-500.

Untuk konteks lebih lengkap, lihat artikel utama fobiz.id tentang pencarian pesawat ATR 42-500.